Minggu, 01 Maret 2015



Was-Was

Was-was dalam kamus bahasa Indonesia bermakna ragu-ragu atau sangsi. Setiap orang pasti pernah merasa ragu atau sangsi. Namun was-was yang satu ini sedikit beda dengan was-was yang dimaksud di atas.
Was-was yang dimaksud di sini adalah was-was yang berasal dari bahasa Arab. Dalam perubahan kosakata bahasa arab, was-was berasal dari akar kata waswasa – yuwaswisu – waswaasan, yang bermaksa bisikan, godaan dan hasutan. Bahkan was-was itu sendiri bisa bermakna pikiran atau bisikan jahat dan juga bermakna sebagai salah satu dari nama syetan (Kamus Al-Munawwir : 1559).
Was-was ini sangat kental dengan ulah syetan dan tipu daya mereka dalam rangka menjerumuskan hamba-hamba Allah Swt. ke jalan kesesatan. Dalam berbagai bidang dimanfaatkan syetan untuk menanamkan keraguan kepada manusia beriman akan kebenaran yang datangnya dari Allah Swt. Mereka juga senantiasa berusaha untuk mengganggu kekhusyu’an dalam beribadah serta membuyarkan konsentrasi para penderitanya. Apalagi kalau ibadah itu dilakukan dengan tidak didasari pengetahuan yang memadai atau terburu-buru saat melaksanakannya.
Mungkin pernah muncul pertanyaan-pertanyaan usil dalam pikiran kita, siapakah yang menciptakan Allah Swt. Apa Dia itu ada dengan sendirinya. Apakah Allah Swt. lelah dan capek dalam mengurusi makhlukn-Nya yang sangat banyak dan beragam. Apakah Allah Swt. merasa bosan melihat tingkah laku manusia yang penuh dosa dan kesalahan. Terkadang kita berusaha mencerna dengan akal pikiran kita, sehingga timbul keraguan yang menodai tauhid yang selama ini kita pelajari. Bahkan tidak jarang, akhirnya kita menganalogikan eksistensi Allah Swt dengan makhluk ciptaan-Nya.
Atau saat melakukan wudhu dan bersuci, muncul perasaan bahwa wudhu kita belum sah, lalu kita ulangi lagi sampai berkali-kali. Bersuci kita belum afdhal, sehingga kita menghabiskan banyak liter air untuk mencapai keafdhalan yang kita maksud.
Atau was-was dalam pikiran. Was-was dalam kehidupan keluarga, jangan-jangan suami kawin lagi, jangan-jangan istri selingkuh dengan laki-laki lain. Dan bentuk was-was atau bisikan-bisikan lainnya yang kita rasa aneh dan ganjil. Yang notabene membuat kita merasa terganggu dengan kemunculan was-was itu dalam keseharian kita, yang pada akhirnya mengganggu ketenangan kita dalam kehidupan.
Dalam Al Qur’an, kata was-was ditemukan sebanyak 5 (lima) kali. Dua kali dalam bentuk fi’il madhi (kata kerja yang sudah berlalu) yaitu dalam surat al-A’raf ayat 20 dan surat Thaha ayat 120. Dua kali dalam bentuk fi’il mudhari (kata kerja yang berlaku sekarang dan yang akan datang), yaitu dalam surat Qaf ayat 16 dan surat an-Nas ayat 5, dan sekali dalam bentuk isim mashdar (kata benda), yaitu dalam surat an-Nas ayat 4.
Dalam surat al-A’raf dan Thaha, Allah Swt. menceritakan kembali kepada kita tentang was-was syetan yang telah menimpa Bapak-Ibu kita, Adam dan Hawa alaihimassalam. Dengan was-wasnya, iblis atau syetan berhasil mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga. Dengan sangat liciknya ia berpura-pura menjadi sosok yang baik, sebagai ‘penasihat spiritual’ dan akhirnya Adam dan Hawa terpedaya. Setelah sadar keduanya pun segera bertaubat kepada Allah Swt. Dan Allah Swt. pun menerima taubat keduanya (Lihat surat al-A’raf ayat 20-23)
Sedangkan dalam surat Qaf dan surat an-Nas, Allah Swt. mengingatkan kita agar senantiasa waspada dengan was-was syetan yang mengintai diri kita sebagai keturunan anak cucu Adam ‘alaihissalam. Waspada agar was-was syetan tidak selalu hadir dan mempengaruhi kehidupan kita dengan berlindung kepada Allah swt. melalui dzikir, doa dan wirid harian, pagi dan sore. Begitu juga saat was-was syetan hadir, hanya kepada Allah Swt. semata kita memohon bantuan dan pertolongan. Bukan kepada antek-antek syetan, dukun dan orang pinter serta orang sejenis mereka.

Bahaya Was-Was

Was-was adalah biang kejahatan, sangat kuat pengaruhnya dan sangat luas dampak negatif yang ditimbulkannya.” Begitulah Ibnul Qoyyim menggambarkan bahaya was-was pada diri manusia dalam kitab tafsirnya.
Banyak sekali bahaya was-was, di antaranya:

1. Menjerumuskan manusia dalam kemaksiatan.

Hal ini terjadi apabila yang bersangkutan tidak segera menepisnya. Maka was-was bisa menjungkirbalikkan kondisi manusia dalam sesaat. Inilah yang pernah dikhawatirkan terjadi pada dua orang sahabat Rasulullah Saw. Menurut Ibnul Aththahr, nama kedua sahabat itu adalah Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr.
Shafiyyah binti Huyai (istri Rasulullah Saw.) menuturkan: Ketika Rasulullah Saw. melakukan I’tikaf, pada suatu malam aku mendatanginya untuk membicarakan sesuatu. Lalu aku bangkit dan mau pulang, Rasulullah juga bangkit dan mengantarkanku. Rumahku berada di rumah Usamah bin Zaid. Tiba-tiba lewatlah dua orang Anshar. Ketika keduanya melihat Rasulullah Saw., keduanya mempercepat langkahnya. Lalu Rasulullah Saw. bersabda, ‘Berhenti! Yang bersamaku adalah Shafiyyah binti Huyai’. Keduanya pun mengucapkan, ‘Maha Suci Allah, wahai Rasulullah … ‘ (Rasulullah memotong ucapan keduanya) dengan sabdanya, ‘Sesungguhnya syetan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah. Saya khawatir kalau (syetan itu) telah membisikkan yang negatif kepadamu, atau berkata sesuatu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadist di atas, Rasulullah menjelaskan duduk perkaranya, bahwa wanita itu adalah istrinya sendiri. Karena beliau melihat langkah kedua sahabat itu dipercepat ketika melihat Rasulullah bersama seorang wanita. Rasulullah khawatir kalau keduanya telah diberi was-was oleh syetan (bisikan negatif), lalu berburuk sangka kepada Rasulullah Saw.
Syetan sangat pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Banyak orang yang dalam kesulitan yang tengah melilitnya dan kesempitan yang menghimpitnya tergoda oleh bisikannya. Syetan mengobral janji, memberi harapan-harapan yang menggiurkan, menabur kenikmatan semu yang melenakan. Akhirnya manusia terjebak dan mengikuti bujukannya. Padahal kenikmatan semu itu berada dalam kubangan maksiat. “Syetan itu memberikan janji-janji kepada mereka dengan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syetan itu tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka”. (QS. an-Nisa’ : 120)
Allah Swt. telah menceritakan, bagaimana kelicikan syetan dalam memperdaya Nabi Adam dan istrinya: “Maka syetan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya. Dan syetan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu untuk mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” (QS. al-A’raf: 20)
Allah Swt. berfirman: “Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syetan-syetan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?” (QS. Maryam : 83)
Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah membeberkan kronologi syetan saat melakukan was-was dan menghasung para hamba Allah Swt. untuk berbuat kemaksiatan dan dosa. “Was-was adalah pemicu keinginan. Di saat hati seseorang hampa dan belum terbersit keinginan untuk berbuat sesuatu, maka syetan melakukan was-was. Lalu terlintaslah dalam benaknya untuk berbuat kemaksiatan dan dosa. Syetan mengiming-iminginya dengan kenikmatan dan menghiasinya dengan syahwat, sehingga terbayang olehnya kelezatan dan kepuasan nafsu, dan ia pun terlena dan lupa akan dampak buruk dari perbuatan yang akan dilakukan. Segala akibat negatif dan menyakitkan tertutup oleh gelora nafsu.
Tidak ada gambaran baginya kecuali kelezatan buah maksiat. Sehingga  keinginan yang terlintas dalam hatinya itu menguat dan mengkristal. Syetan pun semakin sibuk untuk memprovokasinya agar niat itu segera diwujudkan. Jika niatnya itu reda, syetan dan tentaranya sibuk untuk mengobarkannya. Sampai ia betul-betul mewujudkan niatnya dan melakukan dosa dan kesalahan.” (Tafsir al Qayyim : 609)

2. Menyeret penderitanya pada jurang kekufuran.

Aqidah adalah unsur yang sangat prinsip dalam kehidupan seorang muslim. Para sahabat-sahabat Rasulullah Saw. rela mempertaruhkan jiwa dan raga mereka untuk mempertahankan aqidah yang benar.
Karena aqidah merupakan unsur vital, maka syetan pun menjadikannya sebagai sasaran utama untuk menjerumuskan anak-cucu Adam. Iblis berkata, “Karena Engkau telah menghukumku sesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (QS. al-A’raf: 16)
Apabila was-was yang diderita seseorang itu adalah was-was dalam keimanan atau akidah, maka was-was tersebut akan menjadikannya keluar dari iman dan akidah yang benar. Karena itu Rasulullah Saw. memberikan solusi sedini mungkin untuk menghentikannya agar bisikan jahat dan pikiran yang merusak itu tidak punya ruang gerak untuk menggelincirkan iman pemiliknya.
Dalam hadits Rasulullah Saw. menegaskan, “Syetan akan selalu mendatangi salah seorang dari kalian seraya bertanya, ‘Siapa yang menciptakan ini?’, Siapa yang menciptakan ini?’ Sampai pada pertanyaan, ‘Siapa yang menciptakan Allah?’. Barang siapa yang mendapati dalam dirinya pertanyaan tersebut, maka berlindunglah kepada Allah Swt. (baca Isti’adzah) dan hendaklah menghentikannya (mengakhirinya)’” (HR. Bukhari)
Dalam Riwayat lain Rasulullah Saw. bersabda, “Salah seorang dari kalian bisa saja didatangi syetan seraya bertanya kepadanya, ‘Siapa yang menciptakan kamu?’ Maka dia menjawab, ‘Allah’. lalu syetan bertanya lagi, ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Apabila salah seorang di antara kalian mendapati hal itu pada dirinya, hendaknya ia berkata, ‘Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’. Ucapan itu akan menghilangkan (was-was) tersebut” (HR. Ahmad)
Dan dalam riwayat yang lainnya lagi beliau bersabda: “Manusia akan senantiasa bertanya-tanya. Sampai materi pertanyaannya adalah, “Kalau Allah yang menciptakan semua makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Barangsiapa yang menemukan hal itu pada dirinya, maka katakanlah: “Saya telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’.” (HR. Muslim dan Abu Daud)
Imam al-Khaththabi berkata, “Hadits tersebut menjelaskan bahwa apabila syetan melakukan was-was (pada seseorang) dengan pertanyaan seperti itu, hendaknya ia segera berlindung kepada Allah darinya, lalu menghentikannya, tidak usah diperpanjang. Karena itulah cara menghentikan was-was (syetan). Hal ini berbeda apabila yang melakukan was-was adalah syetan manusia. Karena kita bisa mematahkan was-wasnya dengan dalil dan argumen yang kuat. Apabila argumennya kalah, ia akan berhenti. Tapi was-was syetan itu tiada akhirnya. Bahkan bila kita beri argumen, ia malah memberi was-was lain sampai kita dibuatnya bingung. Semoga Allah melindungi kita dari was-was jenis ini.” (Fathul Bari: 6/341).

3. Meninggalkan sunnah Rasul dan mengikuti was-was syetan

Rasulullah Saw. pernah bersabda. “Akan ada di antara umatku nanti kaum yang berlebih-lebihan dalam bersuci dan berdo’a.” (HR. Abu Daud)
Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah berkata, “Termasuk tipudaya syetan yang banyak mengganggu mereka adalah was-was dalam bersuci (mandi dan berwudhu) dan niat atau saat takbiratul ihram dalam shalat. Was-was itu membuat mereka tersiksa dan tidak nyaman. Dan juga bisa mengeluarkan mereka dari garis yang telah disunnahkan Rasulullah. Bahkan diantara mereka ada yang berfikir bahwa apa yang telah dicontohkan Rasulullah itu tidak cukup, mereka butuh sesuatu atau amalan tambahan untuk memantapkan niatnya. Akhirnya mereka terjerumus dalam persepsi yang salah, kepayahan dalam pelaksanaan ibadah serta pahala yang berkurang atau malah rusak.” (Ighatsatul Lahfan:  I/197)

Dalam hal wudhu:

Was-was dalam berwudhu bisa meliputi keraguan dalam niat, mengulang-ulang dalam membasuh anggota wudhu atau boros dalam menggunakan air.
Dalam haditsya, Rasulullah Saw. mengingatkan kita agar waspada dengan syetan air yang bernama Walhan. Karena syetan ini akan selalu menebar was-was untuk orang yang sedang berwudhu. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya dalam wudhu itu ada syetan, yang dinamakan Walhan. Maka hati-hatilah terhadap was-was air.” (HR. Ibnu Majah)
Penulis Syarah Sunan Ibnu Majah mengatakan, “Secara bahasa Walhan itu artinya yang hilang akalnya atau tamak untuk menguasai sesuatu. Syetan wudhu disebut Walhan, bisa jadi karena getolnya dia dalam menebar was-was pada orang yang berwudhu. Atau karena perbuatannya itu membuat orang yang wudhu jadi bingung dan linglung seperti orang yang hilang akalnya. Ia tidak tahu bagaimana syetan bisa mengerjai dia, sampai ia tidak tahu apakah air yang dituang sudah membasahi anggota wudhunya atau belum, atau sudah berapa kali ia telah membasuh anggota wudhunya.” (Syarh Sunan Ibnu Majah: I/34)
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal bercerita, “Saya pernah berkata pada ayahku, bahwa saya termasuk orang yang banyak menggunakan air wudhu. Lalu dia pun melarangku untuk melakukan hal itu. Dia berkata, “Sesungguhnya dalam wudhu itu ada syetannya yang dinamakan Walhan.” Ayahku sering mengingatkanku tentang masalah ini dan melarangku agar tidak boros dalam menggunakan air. Pernah dia menegurku, “Wahai anakku, iritlah dalam menggunakan air.” (Ighatsatul Lahfan: I/42)
Orang yang terjangkiti was-was dalam wudhunya akan merasa bahwa membasuh anggota wudhu dengan air tiga kali adalah tidak cukup. Akhirnya ia membasuhnya berkali-kali melebihi yang disunnahkan Rasulullah, yaitu tiga kali.  Akhirnya terpola dalam pikirannya bahwa cara wudhu seperti itulah yang lebih utama. Padahal itu adalah bentuk pemborosan dalam mengunakan air.
Perhatikanlah bagaimana para sahabat Rasulullah Saw. menjauhi penggunaan air yang boros. Abdullah bin Umar berkata, “Kami dan sekelompok laki dan perempuan pernah berwudhu (bergantian) dan membasuh tangan-tangan kami dalam satu wadah air pada zaman Rasulullah.” (HR. Ibnu Khuzaimah). Dan dalam riwayat lain, Amr bin Syueib bercerita dari kakeknya bahwa, “Ada seorang Arab badui datang ke Rasulullah, ia bertanya tentang wudhu. Lalu beliau memberinya contoh tiga kali tiga kali. Kemudian beliau bersabda, “Beginilah cara berwudhu, barangsiapa yang melakukan lebih dari itu, berarti ia telah menyalahi (sunnahku), zhalim dan melampaui batas.” (HR. Ibnu Majah)
Abdullah bin Umar berkata, “Saat Rasulullah melewati Sa’ad yang lagi berwudhu, Rasulullah menegurnya, ‘Wahai Sa’ad, kenapa kamu terlalu boros menggunakan air?’ Ia menjawab. ‘Apakah dalam berwudhu juga ada mubadzir (boros)?’ Rasulullah bersabda, “Ya, walaupun kamu berada dalam sungai yang mengalir.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Seorang ulama fiqih, Muhammad bin ‘Aljan berkata, “Orang yang mumpuni (faqih) dalam agama Allah, akan menyempurnakan wudhu dengan sedikit menggunakan atau menuangkan air.” Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Termasuk tanda kurang mumpuninya seseorang dalam agama, borosnya dia dalam menggunakan air.” (Ighatsatul Lahfan: I/141)
Abu Abdillah bin Muflih al-Maqdisi berpesan, “Seyogyanya orang-orang yang berwudhu itu menyederhanakan dua hal. Pertama, niat. Karena aku pernah melihat sebagian orang yang ditimpa was-was, dia bersiap-siap untuk mengambil air wudhu mulai dari awal subuh sampai matahari hampir terbit, karena lamanya ia dalam meyakinkan niat.
Kedua, membasuh anggota wudhu. Ada orang yang berkumur, istinsyaq (memasukkan air ke hidung), membasuh anggota wudhu dengan mengulang-ulang sampai dua puluh kali. Karena dia merasa bahwa apa yang dilakukannya belum sah dan tidak mengikuti sunnah. Padahal dia telah menyalahi sunnah.” (Mushibah Akibat Tipuan Syetan: 227)

Dalam hal mandi:

Mandi adalah salah satu cara untuk membersihkan badan dari kotoran dan menghilangkan bau badan. Terlebih dalam hal mandi besar, maka tidak hanya kotoran fisik yang dihilangkan, tapi juga menghilangkan hadats besar, seperti mandi junub atau mandi setelah keluarnya darah nifas dan haidh. Karena mandi seperti itu merupakan bagian dari ibadah, syetan juga tidak akan membiarkan momen itu lewat begitu saja.
Was-was dalam mandi bisa terjadi dalam niatnya atau mengalirnya air ke seluruh tubuhnya atau banyaknya debit air yang ia pakai mandi, sehingga ia ragu apakah air itu suci dan bisa mensucikan?
Abul Faraj Ibnul jauzi bercerita, “Ibnu ‘Aqil pernah cerita kepadaku, bahwa ada seorang laki-laki datang kepadanya dan berkata, ‘Apa pendapatmu, jika aku mandi besar dengan menceburkan diriku ke air berkali-kali, tapi aku masih ragu, apakah mandiku sudah sah atau belum?’ Ibnu ‘Aqil berkata, ‘Pergilah kamu! Kamu tidak berkewajiban untuk shalat.’ Dia bertanya keheranan, ’Bagaimana bisa begitu?’ Ibnu ‘Aqil menjawab, ’Karena Rasulullah telah bersabda, “Kewajiban tidak diwajibkan bagi tiga orang. Orang gila sampai ia sembuh, orang tertidur sampai ia bangun, anak bayi sampai ia baligh.” Orang yang telah menenggelamkan badanmya ke air berkali-kali, lalu ia ragu apakah mandinya sudah sah apa belum adalah orang gila.” (Ighatsatul Lahfan: I/134)

Dalam hal shalat:

Salah seorang sahabat Rasulullah Saw. yang bernama Utsman bin Abil ‘Ash, menceritakan fenomena was-was syetan yang ada dalam dirinya melaui hadits berikut. Utsman bin Abil ‘Ash bercerita: “Ketika Rasulullah Saw. menugaskanku ke Thaif, aku mengalami suatu gangguan dalam shalatku, sehingga aku tidak tahu shalat apa yang sedang aku laksanakan. Ketika aku menyadari gangguan itu aku segera pergi menemui Rasulullah Saw. (di Madinah). Beliau bersabda: ‘Ibnu abil ‘ash?’ Aku menyahut: ‘Ya, Wahai Rasulullah!’. Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu datang kemari?’. Aku menjawab: ‘Wahai Rasululah aku mengalami suatu gangguan  dalam shalatku, sehingga aku tidak tahu shalat apa yang aku laksanakan’. Rasulullah bersabda, ‘Itulah syetan, mendekatlah kemari’.
Maka aku pun mendekat kepadanya, dan aku duduk di atas kedua telapak kakiku. Rasulullah memukul dadaku dengan tangannya, dan meludahi mulutku seraya berkata, ‘Keluarlah musuh Allah!’. Beliau melakukan hal tersebut tiga kali, kemudian mengatakan, ‘Sekarang lanjutkanlah tugasmu!’ Utsman berkata, “Demi Allah, setelah itu saya tidak pernah mengalami gangguan lagi”. (HR. Ibnu Majah, dan Imam al-Haitsami dalam Kitab az-Zawaid menyatakan sanad haditsnya shahih dan perawinya terpercaya)
Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa ia telah datang ke Rasulullah Saw. seraya mengadu kepadanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syetan telah hadir dalam shalatku dan membuat bacaanku ngaco dan rancu.’ Rasulullah menjawab. “Itulah syetan yang disebut dengan Khinzib. Apabila kamu merasakan kehadirannya, maka meludahlah ke kiri tiga kali dan berlindunglah kepada Allah.’ Aku pun melakukan hal itu, dan Allah menghilangkan gangguan itu dariku.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain, “Sesungguhnya syetan apabila mendengar suara adzan sholat, ia menyingkir seraya terkentut-kentut, sampai pada tempat yang tidak terdengar. Apabila (adzan) telah selesai, ia kembali dan melakukan was-was. Dan apabila ia mendengar lantunan Iqomah, ia kabur lagi sampai pada tempat yang tidak terdengar. Apabila (Iqomah) telah selesai, maka ia kembali lagi dan melakukan was-was” (HR. Muslim)
Dan dalam riwayat yang lain, Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda, “Jika salah seorang dari kalian shalat, syetan akan datang kepadanya untuk menggodanya sampai ia tidak tahu berapa rakaat ia telah shalat. Apabila salah seorang dari kalian mengalami hal seperti itu, hendaklah ia sujud dua kali (sujud sahwi) saat ia masih duduk dan sebelum salam, setelah itu baru megucapkan salam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hal membaca Al-Qur’an:

Was-was dalam membaca Al Qur’an biasanya terjadi dalam melafazhkan huruf-hurufnya. Memang kita tidak boleh sembarangan dalam membaca Al Qur’an, ada kaidah baca yang harus kita ikuti. Allah Swt. berfirman: “Dan bacalah Al Qur’an dengan perlahan-lahan (tartil).” (QS. al-Muzzammil: 4). Ali bin Abi Thalib menafsirkan kalimat “Tartil” dengan mentajwidkan huruf dan mengetahui di mana harus berhenti. (Kitab Abjadul ‘Ulum: 2/571). Sedangkan Imam Qurthubi mengatakan, “Yang dimaksud dengan tartil adalah membacanya dengan pelan dan jelas disertai memahami maknanya.” (Tafsir al-Qurthubi: 19/37).
Abul Faraj Ibnul Jauzi berkata, “Terkadang Iblis melakukan was-was dalam shalat seseorang dalam membaca ayat-ayat Al Quran. Sampai ada yang membaca alhamdu pada surat al-Fatihah dengan diulang-ulang. Dan ada juga yang berusaha keras dan sekuat tenaga sampai keluar air ludahnya dalam mengucapkan huruf ‘Dhad’ dalam membaca ‘Ghoiril Maghdhubi’. Iblis telah mengalihkan perhatian mereka dari memahami makna, dialihkan ke pengucapan huruf yang berlebihan dan melampaui kaidah baca.” (Ighatsatul Lahfan: I/60).

4. Mengganggu dan menyakiti hati orang lain

Kita bayangkan, bila berada dalam antrian panjang untuk berwudhu. Orang yang terjangkiti was-was durasi wudhunya lama, karena ia harus mengulang-ulang basuhan anggota badannya saat berwudhu. Air pun yang seharusnya cukup buat beberapa orang, hanya cukup untuknya. Dan ketika tiba giliran yang lain, air itu ternyata stoknya habis.
Atau ketika sedang shalat dalam suatu jama’ah. Ketika sedang shalat orang yang terjangkiti was-was malafazhkan niat dengan diulang berkali-kali, atau saat takbir pun diulang beberapa kali karena merasa belum pas. Pasti ia akan menjadi tatapan mata jama’ah lainnya. Akibatnya konsentrasi jama’ah lain pun akan buyar, kekhusyu’an mereka akan terganggu, begitu juga dengan bacaan shalatnya.
Ibnul Qoyyim pernah bercerita dalam kitabnya, bahwa ada orang yang terjangkiti was-was sedang sholat berjama’ah. Saat iman sudah takbir, orang tersebut melafazhkan niatnya. Dan ia adalah orang yang terjangkiti was-was dalam pengucapan kalimat. Sepertinya tidak cukup baginya untuk melafazhkan “Ushalli” dengan satu kali. Ia selalu mengulang-ulangnya.
Dan ketika ia mengucapkan lafazh “Ada-an lillahi ta’ala” (Melaksanakan karena Alalh ta’ala), dia salah mengucapkan dengan kata, “Adza-an lillahi ta’ala” (Untuk menyakiti Allah ta’ala). Lalu makmum yang disampingnya merasa terganggu dan membatalkan shalatnya seraya berucap di dekat telinganya, “Wali rasulihi wa malaikatihi wa jama’atil mushallin” (Juga menyakiti Rasul-Nya, malaikat-Nya dan jama’ah lain yang sedang shalat). (Kitab Ighatsatul Lahfan: I/135).
            Contoh-contoh di atas pasti akan membuat orang lain terganggu dan penderitanya merasa tertekan dalam hidupnya. Selain juga akan mengacaukan aktifitas penderitanya.

Mengobati Penyakit Was-Was

Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata, “Was-was itu penyebabnya ada dua. Pertama, bodoh terhadap syari’at. Kedua, adanya kekacauan dalam akal atau pikiran. Dan keduanya merupakan kekurangan dan aib yang paling besar dalam diri seseorang.” (Ighatsatul Lahfan: I/139).
Oleh karena itu, apapun bentuk dan macam dari was-was yang menimpa kita, kita bisa mengikis atau menganggulanginya dengan menghilangkan dua kekurangan yang menjadi penyebab seseorang terjerumus dalam was-was. Yaitu dengan ilmu dan ittiba’ (mengikuti) teladan kita, Nabi Muhammad Saw.
Dengan Ilmu yang mengantarkan kita mengenal ajaran Allah Swt. dan mengetahui sunnah Rasul-Nya, akan mengantarkan kita untuk memahami apa saja yang telah dilakukan oleh Rasulullah semasa hidupnya, lalu kita mengikutinya sebagai imam dan teladan yang harus diikuti.
Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Alah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
Berikut adalah beberapa hal hal yang dapat dilakukan untuk mengobati penyakit was-was, yaitu:
1.  Membekali diri dengan akidah yang benar dan lurus. Dengan begitu ia bisa menolak was-was syetan dengan segala jenis tipu dayanya yang licik.
2.      Berpegang teguh kepada syari’at Allah Swt., berlindung kepada-Nya dengan dzikir dan do’a.
3.      Menjaga rutinitas bacaan Al Qur’an dan mempelajari sunnah-sunnah nabi-Nya.
4.      Mengedepankan yang yakin dari pada yang meragukan dan menghentikan pikiran yang menyeret pada keraguan.
5.   Apabila was-was muncul maka segeralah tepis dan jangan diikuti. Apabila berkaitan dengan akidah, mantapkan hati dengan ucapan, “Saya telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”.
6.   Melakukan Ruqyah Syar’iyyah sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw. Wallahu A’lam [].


Sumber: Majalah GHOIB, Edisi 58, Th. IV
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar