Senin, 31 Oktober 2011


KIAT PRAKTIS MEMBENTENGI RUMAH DARI GANGGUAN IBLIS

1.       Sering Melaksanakan Sholat Sunnah Di Dalamnya

          Agar rumah tidak seram dan angker laksana kuburan. Agar rumah tidak menjadi tempat nongkrong Iblis dan syetan, supaya rumah menjadi sarang kebaikan dan keberkahan, maka hiasilah dengan sholat-sholat sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah. Beliau bersabda, “Kerjakanlah sholat kalian di rumah, dan janganlah kalian menjadikannya sebagai kuburan.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Umar).
          Yang dimaksud di sini adalah sholat sunnah, sebagaimana diterangkan dalam riwayatnya yang lain, “Wahai manusia, sholatlah di rumah kalian. Karena sesungguhnya sholat seseorang yang paling utama adalah di rumahnya, kecuali sholat yang wajib.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dan dalam sabdanya yang lain, “Apabila seseorang telah melaksanakan sholatnya di masjid, maka hendaknya ia memberikan bagian dari sholatnya untuk rumahnya. Karena Allah akan menjadikan kebaikan di rumahnya karena sholat yang dilakukannya.” (HR. Muslim)

2.       Sering Membaca al-Qur’an Di Dalamnya

          Rumah yang di dalamnya dibacakan al-Qur’an akan membawa banyak kebaikan dan keberkahan. Karena para malaikat akan senantiasa turun dan menaungi para pembaca al-Qur’an serta mendo’akan mereka. Turunnya malaikat adalah pertanda kebaikan, dan syetan akan lari dari tempat yang dihadiri oleh para malaikat.Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya rumah akan terasa lapang dan lega oleh penghuninya, dan akan selalu didatangi para malaikat dan dijauhi para syetan dan kebaikannya akan bertambah banyak bila selalu dibacakan al-Qur’an di dalamnya. Dan rumah akan terasa sempit oleh penghuninya, dan dijauhi oleh para malaikat dan didatangi oleh para syetan dan kebaikannya pun akan semakin sedikit bila tidak dibacakan al-Qur’an di dalamnya.” (Riwayat Dailami).
          Abdullah bin Mas’ud berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah hidangan Allah, maka ambillah darinya selagi kalian mampu. Karena saya tidak melihat sesuatu yang paling nihil dari kebaikan, kecuali rumah yang tidak pernah dibacakan al-Qur’an sedikitpun. Dan hati yang di dalamnya tidak ada sedikitpun dari kitab Allah adalah hati yang rusak, sebagaimana rusaknya rumah karena tidak ada penghuninya.” (Riwayat Darimi)

3.       Membaca Surat al-Baqarah

          Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Janganlah menjadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan al-Baqarah tidak akan dimasuki syetan.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Rasulullah SAW. bersabda, “… Bacalah surat al-Baqarah, sesungguhnya membacanya adalah barokah, dan meninggalkannya adalah kerugian. Dan dengannya, para tukang sihir tidak akan mampu berbuat apa-apa.” (HR. Ahmad, Muslim dan Ad-Darimi).

4.       Membaca Sepuluh Ayat dari Surat al-Baqarah

          Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang membaca empat ayat dari awal surat al-Baqarah, ayat Kursi dan dua ayat setelahnya, dan tiga ayat terakhir dari surat al-Baqarah, maka syetan tidak akan mendekatinya, juga tidak akan mendekati keluarganya. Dan tidak akan tertimpa sesuatu yang tidak disukainya.” (Riwayat ad-Darimi)

5.       Membaca Ayat Kursi

          Kegunaan ayat tersebut sebagai benteng tidak hanya ditegaskan secara langsung oleh Rasulullah SAW. tetapi juga diberitahukan oleh jin dan syetan itu. Diceriterakan, bahwa Abu Ayyub al-Anshari mempunyai sebuah gudang yang berisi kurma. Lalu datanglah hantu dan mencurinya. Kemudian ia mengadukan hal itu kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Pergilah, apabila kamu melihatnya, katakanlah, ‘Dengan nama Allah, taatilah seruan Rasulullah!’. Kemudian ia pun menangkapnya, dan hantu itu berjanji bahwa ia tidak akan mengulanginya. Abu Ayyub melepaskannya. Ketika Abu Ayyub datang ke Rasulullah, Beliau bertanya, “Apa yang dilakukan tawananmu semalam?” Abu Ayyub menjawab, “Ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Rasulullah bersabda, ‘Ia berbohong, dan sesungguhnya ia telah terbiasa untuk melakukan kebohongan.” Selanjutnya Abu Ayyub menangkapnya lagi dan berkata, “Aku tidak akan melepaskanmu sampai aku membawamu ke Rasulullah”. Lalu ia berkata, “Aku akan memberitahumu sesuatu, ‘Bacalah ayat Kursi di rumahmu, maka syetan dan lainnya tidak akan mendekatimu.” Kemudian Abu Ayyub (melepaskannya), lalu mendatangi Rasulullah. Beliau bertanya, “Apa yang dilakukan tawananmu?”. Lalu ia memberitahukan apa yang telah didengarnya. Rasulullah SAW. bersabda, “Ia telah berkata benar kepadamu, padahal ia adalah pendusta.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
          Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf apabila masuk rumahnya, selalu membaca ayat Kursi di empat pojok rumahnya. Demikian pula pesan Rasulullah, “Apabila kamu hendak tidur di pembaringan, bacalah ayat Kursi sampai tuntas, karena Allah senantiasa menjagamu dan syetan tidak akan mendekatimu sampai pagi.” (HR. Bukhari, dari Abu Hurairah).
          Namun kita juga harus waspada apabila ada orang yang memberi bacaan ayat Kursi sebagai amalan atau wirid untuk kepentingan ini itu atau untuk menggapai kesaktian atau kedigdayaan. Karena cara yang salah dalam berdzikir tidak akan mengantarkan kita kepada Allah, tetapi kepada syetan.

6.       Membaca Dua Ayat Terakhir Surat al-Baqarah

          Rasulullah bersabda, “Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah pada suatu malam, maka hal itu cukup baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Mas’ud). Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya Allah telah menulis Kitab dua ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, dan Dia berada di ‘Arsy. Lalu Dia menurunkan darinya dua ayat yang dengannya Dia menutup surat al-Baqarah. Dan tidaklah keduanya dibaca pada suatu rumah dalam waktu tiga malam, kecuali syetan tidak akan mendekatinya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i)

7.       Membaca Do’a Saat Masuk Rumah

          Masuk dan keluar rumah adalah pekerjaan rutinitas kita sehari-hari. Mungkin karena begitu seringnya aktivitas itu kita lakukan dan kurangnya perhatian kita akan pentingnya do’a masuk rumah, akhirnya kita masuk dan keluar rumah dengan berlalu begitu saja, tanpa berdo’a terlebih dahulu. Khaulah binti Hakim as-Sulamiyyah bercerita, Rasulullah SAW. bersabda, “Barangsiapa singgah di suatu rumah (tempat), lalu membaca, ‘Aku berlindung dengan kalimat-kaliomat Allah yang sempurna dari kejahatan yang telah Dia ciptakan’, niscaya dia tidak akan ada yang mencelakainya sampai ia meninggalkan rumah (tempat) tersebut.” (HR. Imam Muslim).
          Dalam riwayat lain, Abu Malik al-Asy’ari berkata: Rasuullah SAW. bersabda, “Apabila seseorang masuk rumahnya, hendaklah ia membaca: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan waktu masuk dan waktu keluar. Dengan nama Allah kami masuk dan dengan nama Allah kami keluar, dan kepada Allah (Tuhan kami) kami bertawakkal’, lalu mengucapkan salam kepada penghuninya.” (HR. Abu Daud).

8.       Mengucapkan Salam Saat Masuk

          Anas bin Malik berkata: Rasulullah SAW. telah bersabda kepadaku, “Wahai anakku, apabila kamu masuk rumahmu, maka ucapkanlah salam. Karena hal itu akan mendatangkan keberkahan kepadamu dan juga kepada keluargamu.” (HR. Tirmidzi).
          Imam Nawawi berkata, “Dianjurkan (bagi orang yang mau masuk rumah) untuk membaca Basmalah. Dan memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Hendaklah ia mengucapkan salam, baik di rumah itu ada orang atau tidak. Karena Allah telah berfirman, “Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah) dari rumah-rumah (ini), hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya) yang berarti memberi salam kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi lebih baik.” (QS. an-Nur:61).” (al-Adzkar:19). Sedangkan al-Qusyairi berkata, “Tuntunan Allah dalam mengucapkan salam itu sifatnya umum, yaitu diucapkan saat memasuki setiap rumah. Apabila rumah tersebut dihuni oleh orang muslim, maka ucapannya adalah; Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Dan apabila tidak ada penghuninya, maka ucapkanlah; Assalamu’alaina wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin. Atau kalau rumah itu dihuni oleh orang non muslim, maka ucapkanlah; Assalamu ‘ala manittaba’al huda (Keselamatan atas orang yang mau mengikuti petunjuk) atau Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin.” (Tafsir al-Qurthubi: 12/139)    
     
9.       Membaca Basmalah Saat Membuka dan Menutup Pintu

          Basmalah merupakan dzikir yang ringan diucapkan, tapi banyak orang yang lupa untuk mempraktekkan. Termasuk saat membuka dan menutup pintu. Padahal dengan bacaan itu kita akan mendapatkan kebaikan yang banyak dan dengan bacaan itu pula, rumah kita akan terbentengi dari gangguan syetan. Kita tidak perlu lagi menempelkan rajah atau isim diatas kusen pintu. Kita tidak butuh lagi jimat atau pusaka untuk ditempel di dinding. Kita tidak memerlukan lagi bambu kuning atau bawang putih untuk kita pasang di lubang angin-angin atau di pintu dan jendela rumah yang kita tempati.
          Rasulullah SAW. bersabda. “Apabila seseorang masuk rumahnya, lalu membaca Bismillah pada saat masuk dan pada saat makan, maka syetan berkata (kepada teman-temannya): Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makan malam bagi kalian. Tetapi jika seseorang masuk rumahnya dengan tidak membaca Bismillah, maka syetan berkata (kepada teman-temannya): Kalian dapat bermalam. Bila ia tidak menyebut nama Allah saat makan, maka syetan berkata (kepada teman-temannya): Kalian dapat tempat bermalam dan makan malam.” (HR. Muslim). Dan dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda: “ … Dan tutuplah pintu kalian seraya membaca Bismillah, karena syetan tidak akan mampu membuka pintu yang tertutup (dengan baca Bismillah) … “. (HR. Bukhari dan Muslim).

10.     Membaca Basmalah Saat Mau Makan dan Minum

          Semua makhluk hidup memerlukan makanan, termasuk jin. Hanya saja mereka mempunyai menu makanan tersendiri, sebagaimana dijelaskan Rasulullah kepada Abu Hurairah. Abu Hurairah bertanya, “Mengapa kita tidak boleh beristinja’ (membersihkan diri setelah buang air besar) dengan tulang dan kotoran binatang?” Rasulullah menjawab, “kedua benda itu adalah makanan jin” (HR. Bukhari).
          Tapi terkadang jin juga makan menu manusia. Tidak jarang mereka ikut nimbrung dan menyantap makanan dan minuman yang sedang disantap manusia. Umaiyah bin Makhsyi berkata, “Ketika Rasulullah sedang duduk, ada seorang laki-laki sedang makan dan tidak baca Bismillah sampai makanannya hampir habis hanya tinggal satu suapan. Lalu ketika dia menyuapkan suapan itu ke mulutnya, dia membaca: Bismillahi awwalahu wa akhirahu (dengan nama Allah di awal dan akhirnya). Lalu tertawalah Rasulullah, kemudian bersabda, ‘Syetan masih terus makan bersamanya, tapi ketika dia membaca Bismillah, syetan pun langsung memuntahkan apa yang ada di perutnya’.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)
          Dari Umar bin Abi Salamah, ia berkata,”Sewaktu saya masih belia dan berada dalam asuhan Rasulullah, tangan saya berada di atas piring. Maka Rasulullah SAW. bersabda kepadaku, “Wahai anak muda! Bacalah Bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, serta mulailah makan dari apa yang ada di dekatmu. Sejak itu saya selalu makan dengan cara seperti itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

11.     Membaca Basmalah Saat Membuka dan Menutup Lemari

          Basmalah adalah bacaan yang sangat perlu untuk kita baca saat membuka atau menutup pintu lemari atau pintu-pintu lainnya yang ada di rumah kita, agar uang atau benda yang kita simpan di dalamnya terjaga dan terbentengi dari gangguan usil syetan. Mungkin diantara kita ada yang pernah mengalami tiba-tiba jumlah uang yang disimpan hilang beberapa lembar. Padahal kunci lemari selalu berada dalam ‘kekuasaan’ kita, dan tak satu pun orang yang bisa membukanya, kecuali dengan kunci itu. Bagi yang belum pernah mengalami kejanggalan semacam ini dapat melakukan langkah preventif agar aman dari gangguan dan tangan jahil syetan. Rasulullah SAW. bersabda, “… Dan ikatlah (tutuplah) tempat-tempat air kalian dengan membaca Bismillah, dan tutuplah wadah-wadah kalian dengan membaca Bismillah … “ (HR. Bukhari dan Muslim)

12      Membaca Basmalah Saat Menanggalkan Pakaian

          Pakaian yang kita kenakan selain untuk melindungi tubuh dari panas dan dingin, juga untuk menutup aurat kita. Pada saat membuka pakaian, untuk menghindari pandangan mata manusia kita bisa masuk ke ruang tertutup yang kita rasa aman dari pandangan mereka. Namun dalam ruang tertutup itu, jangan dikira kita aman dari pandangan mata makhluk lain. Contohnya: jin. Karena itu jangan biarkan mereka memandang atau menikmati aurat kita. Sebab bisa jadi jin itu tertarik kepada kita setelah melihat lekak lekuk tubuh kita. Perlu diketahui bahwa salah satu motif jin merasuk ke tubuh seseorang, adalah karena jin itu suka atau jatuh cinta kepada orang tersebut. Cegahlah aksi kurang ajar mereka dengan berdo’a dan berdzikir kepada Allah saat akan menanggalkan pakaian.
          Anas bin Malik berkata, “Rasulullah SAW. bersabda, ‘Penutup antara mata jin dan aurat bani Adam saat menanggalkan pakaiannya adalah membaca Bismillah.” (HR. Thabrani). Dalam riwayat lain, Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah memerintahkan untuk menutup pintu-pintu dengan membaca Bismillah, dan menutup wadah (yang terbuka) dengan membaca Bismillah, meskipun ia tidak menjumpai sesuatu kecuali sepotong papan, maka hendaklah ditutupkan di atasnya dengan membaca Bismillah, dan mematikan lampu dengan membaca Bismillah.” (Musnad Abu ‘Uwanah: 1/142)

13.     Membaca Basmalah Saat Masuk Kamar Mandi

          Kamar mandi adalah tempat favorit syetan, bahkan merupakan salah satu sarang syetan. Rasulullah SAW. bersabda, “Ketika Iblis diturunkan Allah ke bumi. Iblis berkata, ‘Wahai Tuhanku, Engkau telah menurunkanku di bumi, dan Engkau telah menjadikanku sebagai makhluk terkutuk. Maka berikanlah untukku rumah.’ Tuhan berkata, ‘Rumahmu adalah kamar mandi … “ (HR. Thabrani).
          Masih banyak umat muslim yang tidak berdo’a saat mau masuk kamar mandi. Bahkan diantara mereka malah bernyanyi dan bersenandung saat masuk kamar mandi. Ruangan mandi berubah menjadi studio musik atau studio rekaman. Padahal hal ini justru memberi peluang bagi syetan untuk masuk ke dalam diri kita. Kita telah memberi password kepada musuh kita untuk menjajah dan menguasai jiwa kita.

14.     Membaca Isti’adzah Saat Masuk Toilet

          Terkadang bangunan toilet dan kamar mandi terpisah. Bisa dipastikan hampir tiap hari kita masuk kamar yang sering disebut dengan kamar kecil atau toilet itu. Hanya saja yang belum bisa dipastikan adalah apakah kita selalu berdo’a saat akan memasuki tempat tersebut. Padahal Rasulullah SAW. sudah berpesan kepada kita, hendaknya kita membaca do’a saat akan memasuki kamar kecil itu. Do’a yang akan memblokir gangguan syetan dan mendatangkan keamanan dan kenyamanan serta ketenangan apabila kita membaca dan mempraktekkannya dengan benar. Anas bin Malik berkata, bahwa apabila Rasulullah SAW. masuk WC atau toilet, beliau membaca: Dengan nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan syetan laki-laki dan syetan perempuan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah).

15.     Membaca Do’a Saat Mau Tidur

          Tidur sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk memulihkan stamina agar manusia dapat beraktifitas dengan baik, termasuk aktifitas beribadah kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, syetan punya kepentingan untuk mengganggu tidur manusia, agar istirahatnya kacau dan tidak stabil. Dengan demikian akan mempengaruhi kualitas ibadahnya akibat kesehatannya terganggu.
          Untuk membentengi rumah kita dari kehadiran syetan yang bisa mengganggu tidur kita, Rasulullah mengajarkan do’a agar kita menjadi nyaman dan tidak mendapat gangguan. Salah satunya adalah dengan membaca. “Dengan nama Allah aku letakkan lambungku. Ya Allah, ampunilah dosaku, usirlah syetanku, bebaskanlah tawananku dan jadikanlah aku di antara para malaikat yang mulia.” (HR. Abu Daud) Di riwayat lain beliau menyeru kita untuk membaca ayat Kursi. Ada juga riwayat lain, dimana beliau mempraktekkan doa sebelum tidur dengan membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas. Lalu meniup kedua tangannya dan mengusapkannya keseluruh tubuh yang bisa dijangkaunya, yang dimulai dari kepala dan bagian depan badannya, sebanyak tiga kali. (HR. Bukhari)

16.     Membersihkan Rumah Dari Nyanyian

          Pada hakikatnya lagu adalah sekumpulan kalimat yang disusun dengan apik lalu disuarakan dengan enak. Kalau isi dan muatan lagu tersebut bisa mengingatkan kita kepada Allah, maka lagu tersebut laksana kumpulan nasihat yang bisa memberi kita semangat untuk berbuat kebaikan yang lebih banyak. Tapi kalau sebaliknya, sebagaimana yang kita jumpai pada bait-bait dan lirik-lirik lagu dan nyanyian dewasa ini, yang memuat syair yang jorok, mesum, amoral dan asusila, atau lirik-lirik lagu yang mengajak kita pada kekafiran, kesyirikan, kemasksiatan dan yang sejenisnya, maka kita harus menjaga darinya. Nyanyian semacam inilah yang harus kita buang, kita bersihkan dari rumah kita.

17.     Membersihkan Rumah Dari Jimat-Jimat atau Benda-Benda Keramat

          Benda-benda yang dianggap bertuah atau keramat itu pada hakikatnya tidak akan memberikan keamanan atau perlindungan kepada kita. Justru sebaliknya benda-benda itu akan menyeret kita kepada kesyirikan atau menduakan Allah. Bahkan benda-benda itu akan mengundang datangnya syetan untuk masuk ke rumah dan melakukan gangguan. Kenyataan di lapangan membuktikan, bahwa orang-orang yang mempunyai masalah seputar gangguan jin, rata-rata rumahnya ada jimat, isim, rajah dan benda keramat lainnya yang menghiasi dinding, pintu, jendela atau tempat lainnya. Realita juga membuktikan, benda-benda seperti itu justru sebagai sumber malapetaka. Mereka malah sering sakit-sakitan, diterpa kecemasan dan ketakutan. Gangguan aneh-aneh yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan, justru malah datang silih berganti. Kalaupun mereka tidak terganggu secara fisik, mereka pasti terganggu secara non-fisik. Akidah mereka ternoda, ketauhidan mereka tercemari. Karena mereka telah menggantungkan keselamatan hidupnya kepada benda-benda tersebut, bukan kepada Allah. Itulah malapetaka terdahsyat dan bencana terbesar dalam kehidupan seorang muslim. Seorang sahabat yang bernama Uqbah bin Amir, menceriterakan bahwa Rasulullah tidak mau membai’at orang yang masih memakai jimat. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang memakai jimat, maka ia telah syirik.” (HR. Ahmad dan Hakim)

18.     Membersihkan Rumah dari Patung

          Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, Patung adalah tiruan orang, binatang dan sebagainya yang dibuat dari batu, tembaga, perunggu, kaca dan sebagainya. Syari’at Islam melarang mengoleksi patung, karena dengan adanya patung di rumah kita, maka malaikat pembawa rahmat yang bertugas untuk mendo’akan dan membawa keberkahan dari Allah SWT. kepada penghuni rumah enggan untuk datang. Apabila para malaikat enggan untuk masuk ke suatu rumah, maka rumah tersebut akan didatangi dan dimasuki oleh syetan. Syetan dan teman-temannya akan betah dan bersarang di rumah tersebut. Lalu melakukan gangguan dan godaan kepada penghuni rumah yang ada. Dalam hal ini, dikecualikan boneka atau mainan anak-anak, karena hal itu termasuk yang mendapat pengecualian dari Rasulullah SAW. Sebagaimana yang pernah dilakukan Aisyah bersama teman-teman sebayanya, mereka bermain-main boneka di depan Rasulullah, dan beliaupun membiarkannya alias tidak melarangnya.

19.     Membersihkan Rumah dari Gambar yang Bernyawa

          Islam tidak melarang aktivitas gambar-menggambar. Hanya saja Islam mengatur umatnya untuk tidak menggambar objek yang bernyawa atau mempunyai roh. Karena hal itu masuk dalam kategori perbuatan menyaingi apa yang telah diciptakan Allah. Apalagi kalau yang digambar adalah objek yang bernyawa dengan mengeksploitasi kemolekan tubuh wanita atau mempertontonkan aurat. Berarti ia telah melakukan dua kesalahan.
          Said al-Hasan berkata, “Saya pernah berada di sisi Ibnu Abbas. Lalu datanglah seorang laki-laki seraya berkata, ‘Wahai Ibnu Abbas, saya adalah seorang laki-laki yang mata pencahariannya adalah ketrampilan tangan (seni rupa), saya berprofesi sebagai tukang gambar’. Ibnu Abbas berkata, ‘Saya tidak akan memberitahumu kecuali apa yang sudah saya dengar dari Rasulullah SAW. Saya telah mendengar Rasulullah SAW. bersabda, ‘Barangsiapa yang menggambar suatu gambar, maka Allah akan mengadzabnya sampai ia bisa meniupkan ruh ke gambar tersebut, dan ia tidak akan bisa meniupkan ruh itu selamanya’. Maka laki-laki itu pun menahan amarahnya (karena kecewa). Ibnu Abbas berkata, ‘Kasihan kamu, kalau kamu tidak bisa meninggalkan seni menggambarmu, maka gambarlah pohon, dan setiap apa saja yang tidak mempunyai roh.” (HR. Bukhari dan Muslim).
          Itu adalah rambu-rambu Islam bagi orang-orang yang mempunyai jiwa melukis atau menggambar. Dan bagi yang tidak mempunyai hobi menggambar, tapi suka mengoleksi dan menikmati gambar, maka hindarilah untuk memajang lukisan dalam rumah, apabila gambar tersebut dalam kategori mempunyai roh. Hal ini berkaitan dengan keberkahan dan kebaikan rumah serta penghuni yang ada di dalamnya. Karena beliau SAW. pernah bersabda, “Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Hibban). Apabila malaikat pembawa keberkahan dan kebaikan dari Allah enggan datang, maka syetanlah yang akan hadir dan menghuni rumah kita.

20.     Membersihkan Rumah dari Lonceng

          Lonceng yang biasa terdapat di gereja, ternyata selama ini juga dipakai oleh sebagian kaum muslimin untuk diletakkan di rumahnya. Ada yang difungsikan sebagai alat pemberitahuan kepada tuan rumah, bahwa ada tamu yang datang, maupun sekedar hiasan rumah dan koleksi seni. Sementara di kampung-kampung, lonceng biasa dipakaikan dileher binatang, agar ketika binatang itu lari bunyi gemerincing lonceng akan terdengar. Padahal Rasulullah SAW. telah melarang keberadaan lonceng-loncemg di rumah, atau yang digantungkan pada leher anak-anak atau binatang ternak. Rasulullah bersabda, “Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat lonceng. Malaikat pun tidak akan mendampingi orang-orang yang di tempatnya ada lonceng.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i), karena sebagaimana sabdanya, “Lonceng adalah seruling syetan.” (HR. Muslim, Abu Daud dan Ahmad). Umar bin Khaththab pernah memecahkan lonceng-lonceng yang digantungkan pada kendaraan putri Zubeir. Umar berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya setiap lonceng itu ada syetannya.” (HR. Abu Daud).
          Adapun bel yang sering kita jumpai di rumah kita, sebagai alat pemberitahuan kepada penghuni rumah, bahwa ada tamu yang datang, bukanlah termasuk dalam kategori onceng yang dilarang keberadaannya dalam rumah seorang muslim. 
    
21.     Membersihkan Rumah dari Anjing

          Aisyah bercerita, “Suatu saat Rasulullah pernah membuat janji dengan malaikat Jibril. Ketika jadwal pertemuan itu tiba, ternyata malaikat Jibril belum juga datang. Seraya meletakkan tongkat yang dipegangnya, Rasulullah berkata, ‘Allah tidak akan mengingkari janji-Nya, tetapi kenapa malaikat jibril belum juga datang?”’
          Ketika Rasulullah menengok kanan-kiri, beliau melihat seekor anak anjing ada di kolong tempat tidur, “sejak kapan anjing itu masuk?” Tanya beliau. “Entahlah” , jawab Aisyah.
          Setelah anjing itu dikeluarkan, datanglah malaikat Jibril. Nabi bertanya, “Kenapa kamu terlambat?” Jibril menjawab, “Karena di rumahmu tadi ada anjing. Ketahuilah, kami tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar.” (HR. Muslim)
          Yang dimaksud anjing di sini adalah semua jenis anjing, kecuali anjing untuk berburu atau anjing untuk penjagan dan keamanan, dengan syarat anjing tersebut tidak berwarna hitam. Karena Rasulullah bersabda, “Anjing hitam adalah syetan.” (HR. Muslim). Kalau kita mempunyai anjing yang sudah terlatih untuk berburu atau menjaga keamanan, atau anjing pelacak pelaku kejahatan dan kriminal, maka janganlah menaruhnya di dalam rumah. Sediakan tempat tersendiri yang terletak di luar rumah, di gerbang rumah atau di belakang rumah. Itu akan lebih aman dan nyaman. Kalau tidak ada tempat lain, sebaiknya kita tidak usah memeliharanya, sekalipun anjing yang sudah terlatih.

22.     Membersihkan Rumah dari Gambar Salib

          Sekarang gambar salib tidak hanya bisa dijumpai oleh mereka yang berada di gereja. Di pasar-pasar yang menjual aksesoris, banyak menjajakan  barang-barang hiasan dalam bentuk salib. Ironisnya, tidak hanya pengikut agama Nashrani saja yang memakai aksesoris jenis ini. Banyak juga orang Muslim, terutama di kalangan remajanya yang memakai salib sebagai hiasan dirinya. Entah karena menjadi korban mode atau karena kebodohan, sehingga mereka ikut serta menghasung simbol agama lain dalam kehidupan sehari-hari. Tapi kebanyakan mereka tidak tahu, bahkan seakan tidak mau tahu, bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah dan melawan sunnah. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah menyatakan, “Sesungguhnya aku diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga sebagai petunjuk bagi semesta alam. Allah SWT. telah memerintahkanku untuk memberantas nyanyian dan seruling, menghancurkan patung-patung dan salib-salib, serta mengikis segala hal yang beraroma jahiliyyah … “ (HR. Ahmad). Masih banyak riwayat-riwayat lain, yang menjelaskan bahwa pada intinya Rasulullah  tidak menghendaki adanya simbol atau lambang salib di rumah kita.
          Oleh karena itu, jangan kita mencoba-coba untuk menghadirkan lambang-lambang salib di rumah kita, kalau kita tidak ingin rumah kita dijauhi oleh para malaikat, dan didekati oleh iblis dan syetan.

23.     Menutup Rumah Bila Malam Tiba

          Orangtua kita selalu melarang kita untuk keluar rumah bila Maghrib akan tiba. Apa yang orangtua lakukan bukanlah pengaruh mitos. Tapi tindakan mereka itu berdasar pada syari’at yang benar. Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah bersabda, “Apabila telah datang waktu malam, atau kalian telah memasuki petang, maka tahanlah anak-anak kalian, karena waktu itu syetan berkeliaran atau bertebaran. Dan apabila telah berlalu beberapa saat, maka lepaskanlah mereka. Dan tutuplah pintu-pintu dan sebutlah nama Allah,karena syetan tidak akan bisa membuka pintu yang tertutup. Dan tutupah tempat-tempat air kalian dan sebutlah nama Allah, dan tutuplah wadah-wadah kalian dengan menyebut nama Allah, meskipun menutupnya dengan penutup apapun yang ada … “ (HR. Bukhari dan Muslim)

24.     Hindari Adanya Ruang atau Kamar Kosong

          Rumah yang luas dan nyaman adalah termasuk unsur yang membahagiakan manusia di dunia ini. Rasulullah bersabda, “Empat hal yang membuat seseorang bahagia; istri yang shalihah, rumah yang lapang, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman.” (HR. Ibnu Hibban). Akan tetapi, jika kita membangun rumah, sebaiknya sesuaikanlah ruangan dengan kebutuhan. Hindari adanya ruangan yang tidak terpakai lalu dibiarkan begitu saja. Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah telah bersabda kepadaku, ‘Kasur(kamar) untuk laki-laki (suami), kasur untuk perempuan (istri), kasur yang ketiga untuk tamu, dan bila ada yang keempat, untuk syetan.” (HR. Muslim, Nasa’i). Abu Daud dan Ahmad juga meriwayatkan dengan inti yang sama.
          Tapi kalau pada awalnya kita punya kamar yang banyak dalam rumah kita, lalu penghuninya tidak menempati lagi, maka jangan dibiarkan ruangan itu kosong begitu saja. Usahakan cari penghuni lain. Atau kalau tidak bisa, berilah penerangan dalam ruangan tersebut, jangan dibiarkan gelap gulita. Bersihkan kotoran atau debu yang ada. Bacakan ayat Allah di dalamnya. Jangan memberi peluang kepada iblis dan syetan untuk menjadikan ruangan tersebut sebagai hunian dan rumah mereka.

25.     Menjalin Kerjasama antar Anggota Keluarga

          Yang dimaksud kerjasama di sini adalah, saling bantu dan tolong menolong antar sesama anggota keluarga untuk membersihkan rumah yang dihuni dan menciptakan rasa aman dan nyaman. Semua anggota keluarga harus menyadari bahwa iblis dan syetan adalah musuh bersama, dan rumah yang dihuni juga punya potensi untuk dijadikan syetan sebagai medan perang dan gangguan.
          Betapa repotnya kalau dalam suatu keluarga tidak ada kerjasama dalam masalah ini. Yang satu suka mengaji dan sholat di rumah, yang lainnya suka memasang jimat dan rajah di dinding rumah. Yang satu membersihkan rumah dari salib dan patung, yang lainnya suka memasang gambar-gambar seronok di dinding rumah. Yang satu suka membaca surat al-Baqarah, yang lainnya suka mengundang dukun dan pemburu hantu untuk membersihkan rumah dari gangguan. Di sinilah peran orangtua (suami dan istri atau ayah dan ibu) sangat dominan. Mereka bertanggungjawab untuk membina dan membimbing anak-anaknya agar mereka mengenal Allah dan Rasul-Nya, dan menjadikan ajaran Islam sebagai tuntunan dalam pergaulan keluarga atau rumah tangga.Wallohu a'lam[]


Sumber: Majalah GHOIB, Edisi 62, Th. IV
BENTUK PENAMPAKAN SYETAN DALAM RUMAH



          Setelah kita mengenal ragamnya gangguan syetan yang ada di rumah, sekarang kita akan mengenal bentuk-bentuk gangguan syetan dalam rumah.

          Yang dimaksud penampakan di sini adalah jin atau syetan yang berubah wujud dari bentuk aslinya menjadi wujud lain, yaitu menyerupai sesuatu lalu menampakkan diri pada manusia. Karena pada hakikatnya jin adalah makhluk ghaib yang wujudnya tidak bisa dilihat oleh manusia. Jin bisa menyerupai apa saja, kecuali menyerupai Rasulullah SAW. Sabdanya, “Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, berarti ia sungguh melihatku. Karena sesungguhnya syetan tidak bisa menyerupaiku.” (HR. Bukhari). Jin atau syetan dalam rumah, biasanya menampakkan diri dalam bentuk sebagai berikut:

(1). Ular. Hati-hati dengan adanya ular yang ada di rumah kita. Bisa jadi ia bukan ular sembarangan, tapi ular jelmaan syetan. Dalam riwayat Muslim diceritakan, bahwa Abu Saib pernah datang ke seorang sahabat yang bernama abu Sa’id al-Khudri. Setiba di rumahnya Abu Sa’id sedang sholat. Abu Sa’ib pun menunggunya. Saat itulah ia melihat ada seekor ular di  tumpukan pelepah korma di pojok rumah. Abu Saib hendak membunuhnya, tapi Abu Sa’id melarangnya dengan isyarat. Lalu Abu Sa’id bercerita tentang  sahabat Rasulullah SAW. yang mati akibat ia membunuh ular jelmaan jin tersebut. Dari riwayat tersebut, bisa disimpulkan bahwa jin terkadang berubah wujud menjadi ular. Terkadang wujud ular itu hadir di alam nyata. Tapi ia terkadang hanya hadir di alam mimpi si penghuni rumah.

(2). Bayangan. Yang dimaksud dengan bayangan di sini adalah wujud penampakan jin yang kurang jelas rupa dan bentuknya. Bisa berupa asap,  bayangan hitam seperti orang yang sedang lewat, karena ia melintas dengan begitu cepat atau cahaya di sekitar kurang terang, sehingga orang yang  melihatnya tidak bisa melihat wujudnya dengan jelas.

(3). Mimpi Buruk. Rasulullah menjelaskan bahwa mimpi buruk itu datangnya dari syetan. Mimpi buruk adalah bagian dari gangguan syetan dalam tidur seseorang. “Mimpi yang baik itu datangnya dari Allah, dan mimpi yang buruk itu datangnya dari syetan. Barangsiapa yang mimpi sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah ia meludah ke kiri tiga kali. Lalu berlindung kepada Allah dari kejahatan syetan, maka mimpi buruk itu tidak akan mencelakakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

(4). Pergerakan Benda. Islam tidak mengingkari adanya perpindahan atau  pergerakan suatu benda karena ulah jin atau syetan. Dalam Al Qur’an diceritakan manakala Ifrit menawarkan diri kepada Nabi Sulaiman AS. untuk memindahkan istana Ratu Bilqis dalam waktu yang sangat singkat. “Berkatalah Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin, ‘Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri diri tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat  dipercaya.” (QS. An-Naml: 39). Jangankan benda-benda kecil dan ringan. Singgasana yang begitu besar mampu diangkat dan dipindahkan dari tempat yang sangat jauh dalam waktu sekejap. Berarti kalau ada benda mati di  rumah kita bergerak sendiri, padahal bukan mesin otomatis, tidak ada orang lain yang menggerakkannya, tidak ada angin yang menghembusnya, dan bukan halusinasi mata kita, maka bisa jadi jin-lah pelakunya.

(5). Mencium Bau. Biasanya tercium bau semerbak melati, padahal tidak ada tanaman melati di pekarangan rumah. Mencium bau durian, padahal tidak sedang musim durian. Atau mencium bau bangkai, setelah dicari-cari ke sana  kemari ternyata tak satu pun hewan melata yang mati di rumah. Bau itu tiba-tiba datang menyengat, lalu tiba-tiba lenyap setelah beberapa saat. Bahkan terkadang hanya sebagian penghuni rumah saja yang mencium, sedangkan  yang lainnya tidak mengendusnya.

(6). Pencurian. Pencurian yang dilakukan oleh jin atau syetan tidak hanya terjadi  pada zaman kita sekarang saja. Kasus itu telah terjadi juga pada zaman Rasulullah SAW. dimana  syetan itu mencuri makanan hasil zakat yang telah dikumpulkan oleh para sahabat. Ada misi yang dibawa syetan dalam hal  pencurian dalam rumah. Dengan melakukan pencurian sedikit uang yang tersimpan, agar yang kehilangan curiga dan menuduh orang yang ada di sekelilingnya. Akibat dari hal ini adalah timbulnya kebencian dan permusuhan  antar anggota keluarga yang ada, sehingga akhirnya akan merusak  keharmonisan rumah tangga yang selama ini telah terbina.

(7). Interaksi. Yang dimaksud dengan berinteraksi disini adalah interaksinya jin atau syetan dengan manusia penghuni rumah, atau sebaliknya. Banyak orang  yang merasa terganggu dengan keberadaan makhluk halus di rumahnya. Tapi ada juga orang yang merasa diuntungkan dengan kehadiran mereka. Karena menurutnya keberadaan jin itu tidak mengganggu, tapi justru sebaliknya. Ia suka memberikan bantuan dan ikut mengamankan rumah tinggal beserta aset yang dimilikinya. Bahkan ada juga yang sengaja membeli atau mendatangkan jin untuk tujuan tersebut. Namun biar bagaimanapun, kita harus waspada. Karena pasti ia punya misi terselubung yang akan mereka wujudkan bila ada  kesempatan, meskipun pada awalnya mereka baik atau sok bersahabat. Tapi  sebenarnya ia tetap sebagai musuh yang punya misi untuk merusak dan menggelincirkan manusia. Kalau mereka benar-bebar shalih (baik), ia tidak  akan hadir, menampakkan diri dan ikut campur dalam kehidupan manusia.

(8). Bisikan. Bisikan adalah isi bisik-bisik yang diucapkan secara pelan sehingga sayup-sayup terdengar. Bisikan-bisikan syetan terkadang muncul dalam diri  kita. Kalau kita tidak segera tanggap dan mengambil tindakan, maka syetan   pembisik itu akan menguasai pikiran kita dan mendikte langkah-langkah kita sehari-hari. Dalam beberapa kasus kriminal, para pelaku mengaku bahwa   perbuatannya itu ia lakukan berdasarkan bisikan-bisikan ghaib yang sering  diterimanya. Terlepas dari benar tidaknya pengakuan tersebut, bisikan syetan pada manusia itu memang ada, sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an surat an-Nas. Nabi Adam telah membuktikan betapa dahsyat dan gencarnya ibis dan syetan dalam melakukan bisikan. Dan bisikan-bisikan  seperti itu atau yang serupa masih berlaku sampai sekarang. Memang sesekali bisikan itu terbukti kebenarannya, tapi lebih banyak tidak benarnya. Semua itu adalah semacam perangkap untuk menjerumuskan kita.

(9). Suara. Teriakan tanpa rupa atau munculnya suara misterius pernah terjadi pada zaman Rasulullah SAW., yaitu saat Perang Uhud berkecamuk. Saat itu beberapa sahabat Rasulullah mendengar teriakan misterius, di antaranya adalah Utbah bin Abi Waqqas. Isi teriakan itu, “Muhammad telah terbunuh”. Beberapa sahabat Rasulullah sempat terpengaruh dengan teriakan tersebut. Tapi tak berapa lama, semangat juang mereka berkobar lagi setelah melihat Rasulullah SAW. masih hidup. Rasulullah menyebut pemilik suara atau teriakan itu adalah syetan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits  riwayat Ahmad dan al-Baihaqi.

(10). Sinar. Sinar atau cahaya sering dipakai oleh syetan sebagai media untuk menyesatkan manusia. Dengan melihat sosok sinar itu, manusia yang melihat  atau yang dihampirinya berkeyakinan bahwa yang datang itu adalah malaikat, karena malaikat diciptakan oleh Allah dari cahaya sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam haditsnya. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Tidak semua cahaya yang datang itu adalah sosok malaikat. Bisa saja yang ada dibalik cahaya itu adalah jin atau syetan, yang datang untuk menyesatkan objeknya.

(11). Dilempar Benda. Sensasi keghaiban semacam ini dialami oleh banyak orang. Kadang-kadang seperti ada yang melempar dari belakang. Ada juga yang merasa bahwa telah terjatuh suatu benda di genting rumahnya, suara jatuhan itu terdengar jelas karena bunyinya cukup keras. Tapi tidak ditemukan apa-apa setelah mengecek genting atap rumahnya. Bahkan gentingnya tidak ada yang pecah. Atau sensasi keghaiban berupa jatuhnya sesuatu dari atas pada saat seseorang sedang mengamalkan wirid tertentu, misalnya berupa keris, batu atau benda-benda semacamnya, yang kemudian   dikeramatkan oleh yang mendapatkannya. Akibatnya dia merasa bangga dan merasa telah menjadi orang hebat dan percaya sekali dengan kekuatan yang terpancar dari barang yang dimilikinya. Tidak jarang mereka yang kepincut oleh barang-barang semacam ini akhirnya rela meninggalkan aktifitasnya, bahkan terkadang menelantarkan keluarga demi memburu barang-barang  semacam ini. Yang jelas dari semua itu adalah bahwa syetan punya banyak trik untuk menggelincirkan dan menjerumuskan manusia dalam kesesatan.  Karena itu kita harus waspada jangan sampai terjerat dalam perangkapnya.

(12). Sosok Manusia Yang Sudah Dikenal. Jin berubah wujud dan menampakkan diri sebagai sosok orang terkenal, tokoh atau publik figur adalah benar adanya. Sebagaimana yang terjadi pada waktu Perang Badar. Iblis hadir di tengah kerumunan pasukan kafir sebagai sosok tersohor,  Suroqoh bin Malik. Peristiwa keghaiban itu telah diabadikan dalam al-Qur’an dalam surat al-Anfal ayat 48. Banyak yang menganggap bahwa sosok penampakan jin itu adalah roh dari orang yang terkenal atau si tokoh tersohor. Akhirnya ia meyakini bahwa tokoh yang telah lama meninggal itu sejatinya masih hidup dan ia memang orang yang sakti. Apalagi bila yang melihat penampakan sosok tokoh itu jumlahnya banyak, entah itu mereka   hanya mengaku-ngaku saja atau benar-benar melihat penampakan yang sejatinya adalah jin. Kemudian ia menyebarkan sensasi keghaiban yang dialaminya kepada orang lain. Akhirnya menyebarlah anggapan salah itu ditengah masyarakat. Tokoh itu semakin dikultuskan, makamnya dikunjungi untuk dimintai bantuan dalam rangka menyelesaikan masalah kehidupan. Ia mengaku bahwa hidupnya selalu dibimbing dan diawasi tokoh tersebut. Kalau menjumpai kesulitan, tokoh itu datang memberikan solusi. Kalau ia tak kunjung datang pada saat dibutuhkan, maka ia akan melakukan ritual khusus  agar tokohnya itu datang membantunya. Misi syetan berhasil dan Allah pun  disekutukan. Karena memang itulah perangkap syetan supaya objeknya menduakan Allah dalam hidupnya. Wallohu a'lam[]


Sumber: Majalah GHOIB, Edisi 61, Th. IV