Senin, 31 Oktober 2011



RAGAM GANGGUAN SYETAN DALAM RUMAH


Sebagian masyarakat kita ada yang kurang berminat untuk membahas seputar gangguan syetan di dalam rumah. Mungkin karena mereka belum pernah mengalami. Rumah yang dihuni selama ini dirasa aman-aman saja. Dan sebagian lain ada yang tidak menyadari akan gangguan syetan di dalam rumah yang mereka huni.
Dan sebagian lagi ada yang berlebihan, baik dalam bersikap maupun dalam mengambil solusi. Sikap yang berlebihan adalah sikap yang mengaitkan segala permasalahan yang terjadi di rumah tangga dengan gangguan syetan. Lalu ia berlebihan dalam mengambil solusinya, melakukan segala hal untuk mengusir syetan yang diyakini sebagai penyulut permasalahan. Padahal belum tentu kalau penyebabnya itu gangguan syetan, tapi malah gangguan medis atau psikis.
Gangguan syetan dalam rumah bukan isapan jempol atau hanya mengada-ada. Syariat Islam telah menyatakan adanya gangguan syetan di dalam rumah yang dihuni oleh manusia. Dan Islam juga telah menjelaskan langkah preventif dan solusinya, agar umatnya tidak salah dalam bersikap dan berlebihan dalam bertindak. Apalagi kalau sampai sikap dan tindakan tersebut melanggar syariat dan menodai tauhid.
Sayangnya, sampai sekarang kebanyakan masyarakat kita selalu mengidentifikasikan sosok misterius dan melakukan teror di rumah itu sebagai arwah atau roh manusia yang telah mati lalu bergentayangan, arwah leluhurnya atau arwah orang yang pernah mati di lokasi tersebut dengan kematian yang dikategorikan tidak wajar. Padahal, roh orang yang telah meninggal dengan cara apapun, wajar atau tidak wajar, semuanya ada tempat tersendiri.
Hanya sebagian orang saja yang mengetahui bahwa sesungguhnya yang bergentayangan di rumah-rumah, atau yang suka mengganggu itu adalah jin atau syetan, bukan arwah orang yang bergentayangan. Jin dan syetan itu berulah untuk memperdaya dan menyesatkan manusia yang tinggal di tempat tersebut.

          Diantara ragam gangguan syetan di rumah adalah sebagai berikut:

(1). Kesurupan. Biasanya orang yang sedang kesurupan tingkah dan  perangainya berubah drastis. Yang tadinya pendiam berubah menjadi beringas. Yang tadinya lembut, lemah gemulai berubah menjadi kuat dan  perkasa. Yang tadinya tidak bisa berbahasa daerah selain bahasa daerahnya, berubah menjadi mahir berbahasa lain yang sebetulnya tidak dikuasainya. Perubahan itu disebabkan pengaruh syetan yang ada di tubuhnya.

(2). Sering Pingsan. Pingsan yaitu tidak sadarkan diri atau tidak ingat; tapi bukan berarti hilang ingatan atau gila. Biasanya sebelum pingsan, orang yang bersangkutan itu merasa seperti ada sinar di depan matanya lalu masuk ke jasadnya, setelah itu ia tidak teringat lagi. Atau melihat seperti bayangan hitam menghampirinya, setelah itu ia tidak tahu lagi apa yang terjadi pada dirinya.

(3). Kepanasan. Kepanasan yang kita maksud di sini bukan karena rumah yang sempit, sirkulasi udaranya tidak baik dan cuaca yang panas. Tetapi ada faktor X yang membuat penghuni rumah itu tidak betah dan terasa panas. Mungkin rumah itu tergolong rumah mewah, tinggi, besar dan lebar, dan halamannya juga luas. Sirkulasi udara cukup bagus, bahkan ada beberapa alat pendingin di masing-masing ruangan. Tapi anehnya si penghuni rumah masih merasa tidak nyaman. Kalau sudah masuk rumah tersebut bawaannya panas,  gampang marah dan cenderung tidak bersahabat dengan anggota penghuni   rumah yang lain.

(4). Susah Tidur. Sekilas tidak ada kaitannya antara susah tidur dengan ulah syetan. Untuk apa syetan mengganggu orang sehingga ia susah tidur? Jawaban dari pertanyaan ini adalah, apabila seseorang susah tidur di malam hari, maka di pagi harinya ia akan telat bangunnya, yang otomatis akan telat sholat subuhnya. Apalagi kalau dia bangunnya sudah siang. Selain sholat subuhnya yang terlewat, aktivitas paginya juga akan terganggu.

(5). Tindihan. Menurut kamus bahasa Indonesia, namanya yang benar adalah ketindihan, yang artinya adalah jika seseorang tidak dapat bergerak dan merintih-rintih (ketika tidur), atau yang sering kita kenal sebagai rep-repan. Ketindihan ada yang terjadi saat orang baru mau tidur, dan ada yang mengalami ketindihan saat ia tidur lelap. Orang yang mengalaminya merasa sulit untuk melepaskan diri. Ia berusaha sekuat mungkin tapi terasa tak kuasa, sampai ia merintih-rintih, bahkan nafasnya tersengal-sengal. Akibat  gangguan ini pada akhirnya akan membuat orang itu trauma untuk memulai tidur karena khawatir akan mengalami hal yang serupa. Kalau kondisi ini dibiarkan, maka akan menyebabkan insomnia (susah tidur) sebagaimana gangguan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Syetan berusaha mengacaukan siklus tidurnya, agar aktivitas dan ibadahnya terganggu.

(6). Susah Bangun Subuh. Kasus orang susah bangun subuh pernah diangkat di hadapan Rasulullah. Dan Rasulullah menjelaskan bahwa itu adalah bagian dari gangguan syetan, dengan sabdanya, “Itu adalah seseorang yang kedua telinganya atau salah satunya telah dikencingi syetan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Para ulama berbeda pendapat dalam memahami ‘kencingnya syetan’. Ada yang memahaminya secara tekstual, “Syetan benar-benar kencing di telinganya”. Karena hal itu bisa saja terjadi dan tidak mustahil adanya. Sebab Rasulullah sendiri telah menjelaskan bahwa syetan juga makan dan minum serta menikah, maka mungkin saja mereka juga kencing. Diantara yang berpendapat demikian adalah Imam al-Qurthubi. Sedangkan sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa infromasi Rasulullah itu adalah kiasan, yang maksudnya adalah syetan telah menutup kedua telinganya atau salah satunya sehingga ia tidak mendengar suara adzan (subuh). Ada juga yang berpendapat bahwa syetan telah menguasainya sehingga dengan  mudahnya ia menjadikan objeknya seperti toilet untuk buang air. Karena biasanya ekspresi orang untuk menghinakan orang lain adalah dengan mengencinginya. (Fathul Bari: 3/28)

(7). Linglung. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah lupa segalanya, karena bingung atau terlalu asyik memikirkan sesuatu. Termasuk ragam  gangguan syetan di rumah adalah menjadikan penghuninya linglung. Secara tiba-tiba ia mengalami perubahan drastis dalam berfikir, akhirnya sangat  berpengaruh dalam melaksanakan tugas atau menyelesaikan pekerjaan yang  menjadi tanggungjawabnya.

(8). Bengong. Menurut Kamus Besar Bahasa Indoneia, bengong adalah sikap orang yang terdiam atau termenung seperti kehilangan akal (karena heran, sedih dan sebagainya). Kalau kita terbengong saat melihat sesuatu yang mengagetkan atau mentakjubkan, adalah sikap yang wajar dan manusiawi. Tapi kalau ada orang yang sering bengong, termenung sendiri larut dalam lamunan tanpa sebab yang jelas, maka itu adalah kondisi kejiwaan yang sangat mengganggu pelakunya atau orang yang ada di sekitarnya.

(9). Emosi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat. Orang yang emosional adalah orang yang penuh emosi. Bila ada masalah sedikit yang menyinggung perasaannya, melukai hatinya, mengurangi haknya atau hak orang yang dicintainya, maka darahnya akan naik ke kepalanya dan ia pun meluapkan kemarahan dan emosinya itu, dan tak tertahankan lagi.

(10). Ketidakharmonisan. Setiap orang yang membina rumah tangga selalu  menginginkan keharmonisan. Tetapi dalam kenyataannya, rintangan dan  tantangan selalu mewarnai jalannya bahtera pernikahan. Kalau penyebab ketidakharmonisan antar anggota keluarga adalah manusia, maka kita bisa menyelesaikan dengan cara manusiawi. Walaupun terkadang jalan keluar yang kita harapkan baru ketemu setelah negosiasi yang berkepanjangan dan melelahkan. Namun sulitnya, terkadang gangguan dan godaan itu datangnya dari makhluk lain, yaitu syetan. Dan kebanyakan kita kurang mewaspadai  akan adanya campur tangan makhluk yang punya misi besar ini, yaitu menghancurkan setiap mahligai rumah tangga yang sudah terbina.

(11). Perceraian. Tak jarang, pasangan suami istri akhirnya bercerai dan berpisah  karena masalah yang mendera rumah tangganya. Bisa jadi pemicunya bukan masalah besar dan serius, tapi karena hadirnya makhluk yang tidak tampak, yang akhirnya masalah sepele itu jadi bumerang dan menciptakan tembok  pemisah yang sulit disatukan. Rasulullah SAW. mengingatkan kita agar waspada terhadap makhluk yang menjadi provokator perceraian antar suami  istri. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Iblis membangun singgasananya di   atas air, dari situ ia menyebar pasukannya. Yang paling dekat posisinya   dengannya adalah yang paling dahsyat fitnahnya. Ia akan kembali dan melapor, ‘Saya telah melakukan ini dan itu’. Iblis berkata, ‘Kamu belum berbuat apa-apa’. Lalu ada yang datang lagi seraya berkata, ‘Tidaklah saya meninggalkannya, kecuali saya telah berhasil menceraikannya dengan istrinya’. Iblis berkata, ‘Kamulah yang terbaik, ikuti dia terus’. (HR. Muslim).

(12). Kejang-kejang. Kejang artinya kaku dan menegang, biasanya terjadi pada urat atau otot. Menurut ilmu kedokteran kejang adalah pengerutan otot yang berlebihan di luar kehendak. Ada yang disebabkan karena demam atau suhu panas badan yang sangat tinggi. Dan sakit yang berupa kejang ini disebut kekejangan.

(13). Rewel. Anak kecil rewel adalah hal yang wajar. Apalagi kalau kondisi kesehatannya terganggu. Kedua orang tuanya bisa begadang semalam suntuk demi menunggui si buah hati. Tapi yang sering membuat jengkel orang tua adalah ngambek dan rewelnya anak tanpa adanya sebab yang  jelas. Tiba-tiba di tengah malam ia bangun dan menangis histeris, atau ia rewel dan ngambek tidak mau sekolah. Atau ia mengalami ketakutan yang berkepanjangan dan tak kunjung berakhir. Atau ia melakukan tingkah yang aneh dan ganjil sehingga memalukan serta mencemarkan nama baik orangtua. Dan yang menambah kebingungan adalah, kalau sifat-sifat ‘negatif’ itu muncul di saat anak berada di rumah. Padahal kalau diajak keluar atau di rumah orang lain, ia baik prilakunya dan manis sikapnya. Rasulullah SAW. pernah menjumpai seorang anak yang sedang berada di rumah istrinya,  Ummu Salamah. Melihat tingkah anak yang aneh, menangis terus-menerus  dan tidak berhenti-henti, Rasulullah SAW. menanyakan masalahnya kepada istrinya, lalu menyuruhnya untuk melakukan ruqyah (HR. Malik).

          Itulah ragam gangguan syetan di rumah yang sering terjadi. Mungkin masih ada ragam lainnya yang belum ditemukan. Wallahu a'lam[]


Sumber: Majalah GHOIB, edisi 60, Th. IV

Tidak ada komentar:

Posting Komentar