RAGAM
GANGGUAN SYETAN DALAM RUMAH
Sebagian
masyarakat kita ada yang kurang berminat untuk membahas seputar gangguan syetan
di dalam rumah. Mungkin karena mereka belum pernah mengalami. Rumah yang dihuni
selama ini dirasa aman-aman saja. Dan sebagian lain ada yang tidak menyadari
akan gangguan syetan di dalam rumah yang mereka huni.
Dan
sebagian lagi ada yang berlebihan, baik dalam bersikap maupun dalam mengambil
solusi. Sikap yang berlebihan adalah sikap yang mengaitkan segala permasalahan
yang terjadi di rumah tangga dengan gangguan syetan. Lalu ia berlebihan dalam
mengambil solusinya, melakukan segala hal untuk mengusir syetan yang diyakini
sebagai penyulut permasalahan. Padahal belum tentu kalau penyebabnya itu
gangguan syetan, tapi malah gangguan medis atau psikis.
Gangguan
syetan dalam rumah bukan isapan jempol atau hanya mengada-ada. Syariat Islam
telah menyatakan adanya gangguan syetan di dalam rumah yang dihuni oleh
manusia. Dan Islam juga telah menjelaskan langkah preventif dan solusinya, agar
umatnya tidak salah dalam bersikap dan berlebihan dalam bertindak. Apalagi kalau
sampai sikap dan tindakan tersebut melanggar syariat dan menodai tauhid.
Sayangnya,
sampai sekarang kebanyakan masyarakat kita selalu mengidentifikasikan sosok
misterius dan melakukan teror di rumah itu sebagai arwah atau roh manusia yang
telah mati lalu bergentayangan, arwah leluhurnya atau arwah orang yang pernah
mati di lokasi tersebut dengan kematian yang dikategorikan tidak wajar.
Padahal, roh orang yang telah meninggal dengan cara apapun, wajar atau tidak
wajar, semuanya ada tempat tersendiri.
Hanya
sebagian orang saja yang mengetahui bahwa sesungguhnya yang bergentayangan di
rumah-rumah, atau yang suka mengganggu itu adalah jin atau syetan, bukan arwah
orang yang bergentayangan. Jin dan syetan itu berulah untuk memperdaya dan menyesatkan
manusia yang tinggal di tempat tersebut.
Diantara ragam gangguan syetan di rumah adalah sebagai berikut:
(1). Kesurupan.
Biasanya orang yang sedang kesurupan tingkah dan perangainya berubah
drastis. Yang tadinya pendiam berubah menjadi beringas. Yang tadinya lembut,
lemah gemulai berubah menjadi kuat dan perkasa. Yang tadinya tidak bisa
berbahasa daerah selain bahasa daerahnya, berubah menjadi mahir berbahasa
lain yang sebetulnya tidak dikuasainya. Perubahan itu disebabkan pengaruh
syetan yang ada di tubuhnya.
(2). Sering
Pingsan. Pingsan yaitu tidak sadarkan diri atau tidak ingat;
tapi bukan berarti hilang ingatan atau gila. Biasanya sebelum pingsan,
orang yang bersangkutan itu merasa seperti ada sinar di depan matanya lalu masuk
ke jasadnya, setelah itu ia tidak teringat lagi. Atau melihat seperti
bayangan hitam menghampirinya, setelah itu ia tidak tahu lagi apa yang terjadi
pada dirinya.
(3). Kepanasan.
Kepanasan yang kita maksud di sini bukan karena rumah yang sempit, sirkulasi
udaranya tidak baik dan cuaca yang panas. Tetapi ada faktor X yang membuat
penghuni rumah itu tidak betah dan terasa panas. Mungkin rumah itu
tergolong rumah mewah, tinggi, besar dan lebar, dan halamannya juga luas.
Sirkulasi udara cukup bagus, bahkan ada beberapa alat pendingin di
masing-masing ruangan. Tapi anehnya si penghuni rumah masih merasa tidak
nyaman. Kalau sudah masuk rumah tersebut bawaannya panas, gampang marah
dan cenderung tidak bersahabat dengan anggota penghuni rumah yang lain.
(4). Susah
Tidur. Sekilas tidak ada kaitannya antara susah tidur dengan ulah syetan.
Untuk apa syetan mengganggu orang sehingga ia susah tidur? Jawaban dari
pertanyaan ini adalah, apabila seseorang susah tidur di malam hari, maka di
pagi harinya ia akan telat bangunnya, yang otomatis akan telat sholat subuhnya.
Apalagi kalau dia bangunnya sudah siang. Selain sholat subuhnya yang terlewat,
aktivitas paginya juga akan terganggu.
(5). Tindihan.
Menurut kamus bahasa Indonesia, namanya yang benar adalah ketindihan, yang artinya adalah jika
seseorang tidak dapat bergerak dan merintih-rintih (ketika tidur), atau
yang sering kita kenal sebagai rep-repan. Ketindihan ada yang
terjadi saat orang baru mau tidur, dan ada yang mengalami ketindihan saat
ia tidur lelap. Orang yang mengalaminya merasa sulit untuk melepaskan
diri. Ia berusaha sekuat mungkin tapi terasa tak kuasa, sampai ia
merintih-rintih, bahkan nafasnya tersengal-sengal. Akibat gangguan ini
pada akhirnya akan membuat orang itu trauma untuk memulai tidur karena
khawatir akan mengalami hal yang serupa. Kalau kondisi ini dibiarkan, maka
akan menyebabkan insomnia (susah
tidur) sebagaimana gangguan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Syetan berusaha
mengacaukan siklus tidurnya, agar aktivitas dan ibadahnya terganggu.
(6). Susah
Bangun Subuh. Kasus orang susah bangun subuh pernah diangkat di
hadapan Rasulullah. Dan Rasulullah menjelaskan bahwa itu adalah
bagian dari gangguan syetan, dengan sabdanya, “Itu adalah seseorang yang kedua telinganya atau salah satunya telah
dikencingi syetan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Para ulama berbeda pendapat
dalam memahami ‘kencingnya syetan’. Ada yang memahaminya secara tekstual,
“Syetan benar-benar kencing di telinganya”. Karena hal itu bisa saja
terjadi dan tidak mustahil adanya. Sebab Rasulullah sendiri telah menjelaskan
bahwa syetan juga makan dan minum serta menikah, maka mungkin saja mereka juga
kencing. Diantara yang berpendapat demikian adalah Imam al-Qurthubi.
Sedangkan sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa infromasi Rasulullah itu
adalah kiasan, yang maksudnya adalah syetan telah menutup kedua telinganya
atau salah satunya sehingga ia tidak mendengar suara adzan (subuh). Ada
juga yang berpendapat bahwa syetan telah menguasainya sehingga dengan
mudahnya ia menjadikan objeknya seperti toilet untuk buang air. Karena biasanya
ekspresi orang untuk menghinakan orang lain adalah dengan mengencinginya.
(Fathul Bari: 3/28)
(7). Linglung.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah lupa segalanya, karena bingung atau
terlalu asyik memikirkan sesuatu. Termasuk ragam gangguan syetan di rumah
adalah menjadikan penghuninya linglung. Secara tiba-tiba ia mengalami
perubahan drastis dalam berfikir, akhirnya sangat berpengaruh dalam
melaksanakan tugas atau menyelesaikan pekerjaan yang menjadi
tanggungjawabnya.
(8). Bengong.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indoneia, bengong adalah sikap orang yang terdiam
atau termenung seperti kehilangan akal (karena heran, sedih dan
sebagainya). Kalau kita terbengong saat melihat sesuatu yang mengagetkan
atau mentakjubkan, adalah sikap yang wajar dan manusiawi. Tapi kalau ada
orang yang sering bengong, termenung sendiri larut dalam lamunan tanpa sebab
yang jelas, maka itu adalah kondisi kejiwaan yang sangat mengganggu pelakunya
atau orang yang ada di sekitarnya.
(9). Emosi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah luapan perasaan yang berkembang dan
surut dalam waktu singkat. Orang yang emosional adalah orang yang penuh
emosi. Bila ada masalah sedikit yang menyinggung perasaannya, melukai hatinya,
mengurangi haknya atau hak orang yang dicintainya, maka darahnya akan naik
ke kepalanya dan ia pun meluapkan kemarahan dan emosinya itu, dan tak tertahankan
lagi.
(10). Ketidakharmonisan.
Setiap orang yang membina rumah tangga selalu menginginkan keharmonisan.
Tetapi dalam kenyataannya, rintangan dan tantangan selalu mewarnai
jalannya bahtera pernikahan. Kalau penyebab ketidakharmonisan antar
anggota keluarga adalah manusia, maka kita bisa menyelesaikan dengan cara
manusiawi. Walaupun terkadang jalan keluar yang kita harapkan baru ketemu
setelah negosiasi yang berkepanjangan dan melelahkan. Namun sulitnya,
terkadang gangguan dan godaan itu datangnya dari makhluk lain, yaitu syetan.
Dan kebanyakan kita kurang mewaspadai akan adanya campur tangan makhluk
yang punya misi besar ini, yaitu menghancurkan setiap mahligai rumah
tangga yang sudah terbina.
(11). Perceraian.
Tak jarang, pasangan suami istri akhirnya bercerai dan berpisah karena
masalah yang mendera rumah tangganya. Bisa jadi pemicunya bukan masalah besar
dan serius, tapi karena hadirnya makhluk yang tidak tampak, yang akhirnya
masalah sepele itu jadi bumerang dan menciptakan tembok pemisah yang sulit
disatukan. Rasulullah SAW. mengingatkan kita agar waspada terhadap makhluk yang
menjadi provokator perceraian antar suami istri. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Iblis membangun singgasananya
di atas air, dari situ ia menyebar pasukannya. Yang paling dekat
posisinya dengannya adalah yang paling dahsyat fitnahnya. Ia akan
kembali dan melapor, ‘Saya telah melakukan ini dan itu’. Iblis berkata, ‘Kamu
belum berbuat apa-apa’. Lalu ada yang datang lagi seraya berkata,
‘Tidaklah saya meninggalkannya, kecuali saya telah berhasil menceraikannya
dengan istrinya’. Iblis berkata, ‘Kamulah yang terbaik, ikuti dia terus’.
(HR. Muslim).
(12). Kejang-kejang.
Kejang artinya kaku dan menegang, biasanya terjadi pada urat atau otot. Menurut
ilmu kedokteran kejang adalah pengerutan otot yang berlebihan di luar
kehendak. Ada yang disebabkan karena demam atau suhu panas badan yang
sangat tinggi. Dan sakit yang berupa kejang ini disebut kekejangan.
(13). Rewel.
Anak kecil rewel adalah hal yang wajar. Apalagi kalau kondisi kesehatannya
terganggu. Kedua orang tuanya bisa begadang semalam suntuk demi menunggui si
buah hati. Tapi yang sering membuat jengkel orang tua adalah ngambek dan
rewelnya anak tanpa adanya sebab yang jelas. Tiba-tiba di tengah malam ia
bangun dan menangis histeris, atau ia rewel dan ngambek tidak mau sekolah. Atau
ia mengalami ketakutan yang berkepanjangan dan tak kunjung berakhir. Atau ia
melakukan tingkah yang aneh dan ganjil sehingga memalukan serta mencemarkan
nama baik orangtua. Dan yang menambah kebingungan adalah, kalau
sifat-sifat ‘negatif’ itu muncul di saat anak berada di rumah. Padahal kalau
diajak keluar atau di rumah orang lain, ia baik prilakunya dan manis sikapnya.
Rasulullah SAW. pernah menjumpai seorang anak yang sedang berada di rumah
istrinya, Ummu Salamah. Melihat tingkah anak yang aneh, menangis
terus-menerus dan tidak berhenti-henti, Rasulullah SAW. menanyakan
masalahnya kepada istrinya, lalu menyuruhnya untuk melakukan ruqyah (HR.
Malik).
Itulah ragam gangguan syetan di rumah yang sering terjadi. Mungkin masih ada
ragam lainnya yang belum ditemukan. Wallahu a'lam[]
Sumber:
Majalah GHOIB, edisi 60, Th. IV
Tidak ada komentar:
Posting Komentar