Was-Was
Was-was
dalam kamus bahasa Indonesia bermakna ragu-ragu
atau sangsi. Setiap orang pasti
pernah merasa ragu atau sangsi. Namun was-was yang satu ini sedikit beda dengan
was-was yang dimaksud di atas.
Was-was yang
dimaksud di sini adalah was-was yang berasal dari bahasa Arab. Dalam perubahan
kosakata bahasa arab, was-was berasal dari akar kata waswasa – yuwaswisu – waswaasan, yang bermaksa bisikan, godaan dan hasutan. Bahkan was-was itu sendiri bisa
bermakna pikiran atau bisikan jahat dan juga bermakna sebagai salah satu dari
nama syetan (Kamus Al-Munawwir : 1559).
Was-was ini sangat kental
dengan ulah syetan dan tipu daya mereka dalam rangka menjerumuskan hamba-hamba
Allah Swt. ke jalan kesesatan. Dalam berbagai bidang dimanfaatkan syetan untuk
menanamkan keraguan kepada manusia beriman akan kebenaran yang datangnya dari
Allah Swt. Mereka juga senantiasa berusaha untuk mengganggu kekhusyu’an dalam
beribadah serta membuyarkan konsentrasi para penderitanya. Apalagi kalau ibadah
itu dilakukan dengan tidak didasari pengetahuan yang memadai atau terburu-buru
saat melaksanakannya.
Mungkin pernah muncul
pertanyaan-pertanyaan usil dalam pikiran kita, siapakah yang menciptakan Allah
Swt. Apa Dia itu ada dengan sendirinya. Apakah Allah Swt. lelah dan capek dalam
mengurusi makhlukn-Nya yang sangat banyak dan beragam. Apakah Allah Swt. merasa
bosan melihat tingkah laku manusia yang penuh dosa dan kesalahan. Terkadang
kita berusaha mencerna dengan akal pikiran kita, sehingga timbul keraguan yang
menodai tauhid yang selama ini kita pelajari. Bahkan tidak jarang, akhirnya
kita menganalogikan eksistensi Allah Swt dengan makhluk ciptaan-Nya.
Atau saat melakukan wudhu
dan bersuci, muncul perasaan bahwa wudhu kita belum sah, lalu kita ulangi lagi
sampai berkali-kali. Bersuci kita belum afdhal,
sehingga kita menghabiskan banyak liter air untuk mencapai keafdhalan yang kita
maksud.
Atau was-was dalam pikiran.
Was-was dalam kehidupan keluarga, jangan-jangan suami kawin lagi, jangan-jangan
istri selingkuh dengan laki-laki lain. Dan bentuk was-was atau bisikan-bisikan
lainnya yang kita rasa aneh dan ganjil. Yang notabene membuat kita merasa
terganggu dengan kemunculan was-was itu dalam keseharian kita, yang pada
akhirnya mengganggu ketenangan kita dalam kehidupan.
Dalam Al Qur’an, kata was-was
ditemukan sebanyak 5 (lima) kali. Dua kali dalam bentuk fi’il
madhi (kata kerja yang sudah berlalu) yaitu dalam surat al-A’raf ayat 20
dan surat Thaha ayat 120. Dua kali dalam bentuk fi’il mudhari (kata kerja yang berlaku sekarang dan yang akan
datang), yaitu dalam surat Qaf ayat 16 dan surat an-Nas ayat 5, dan sekali
dalam bentuk isim mashdar (kata
benda), yaitu dalam surat an-Nas ayat 4.
Dalam surat al-A’raf dan
Thaha, Allah Swt. menceritakan kembali kepada kita tentang was-was syetan yang
telah menimpa Bapak-Ibu kita, Adam dan Hawa alaihimassalam.
Dengan was-wasnya, iblis atau syetan berhasil mengeluarkan Adam dan Hawa dari
surga. Dengan sangat liciknya ia berpura-pura menjadi sosok yang baik, sebagai
‘penasihat spiritual’ dan akhirnya Adam dan Hawa terpedaya. Setelah sadar
keduanya pun segera bertaubat kepada Allah Swt. Dan Allah Swt. pun menerima
taubat keduanya (Lihat surat al-A’raf ayat 20-23)
Sedangkan dalam surat Qaf
dan surat an-Nas, Allah Swt. mengingatkan kita agar senantiasa waspada dengan
was-was syetan yang mengintai diri kita sebagai keturunan anak cucu Adam
‘alaihissalam. Waspada agar was-was syetan tidak selalu hadir dan mempengaruhi kehidupan
kita dengan berlindung kepada Allah swt. melalui dzikir, doa dan wirid harian,
pagi dan sore. Begitu juga saat was-was syetan hadir, hanya kepada Allah Swt.
semata kita memohon bantuan dan pertolongan. Bukan kepada antek-antek syetan,
dukun dan orang pinter serta orang sejenis mereka.
Bahaya
Was-Was
“Was-was adalah biang
kejahatan, sangat kuat pengaruhnya dan sangat luas dampak negatif yang
ditimbulkannya.” Begitulah Ibnul Qoyyim menggambarkan bahaya was-was pada diri
manusia dalam kitab tafsirnya.
Banyak sekali bahaya
was-was, di antaranya:
1. Menjerumuskan
manusia dalam kemaksiatan.
Hal ini terjadi apabila yang
bersangkutan tidak segera menepisnya. Maka was-was bisa menjungkirbalikkan
kondisi manusia dalam sesaat. Inilah yang pernah dikhawatirkan terjadi pada dua
orang sahabat Rasulullah Saw. Menurut Ibnul Aththahr, nama kedua sahabat itu
adalah Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr.
Shafiyyah binti Huyai (istri
Rasulullah Saw.) menuturkan: Ketika Rasulullah Saw. melakukan I’tikaf, pada
suatu malam aku mendatanginya untuk membicarakan sesuatu. Lalu aku bangkit dan
mau pulang, Rasulullah juga bangkit dan mengantarkanku. Rumahku berada di rumah
Usamah bin Zaid. Tiba-tiba lewatlah dua orang Anshar. Ketika keduanya melihat
Rasulullah Saw., keduanya mempercepat langkahnya. Lalu Rasulullah Saw.
bersabda, ‘Berhenti! Yang bersamaku adalah Shafiyyah binti Huyai’. Keduanya pun
mengucapkan, ‘Maha Suci Allah, wahai Rasulullah … ‘ (Rasulullah memotong ucapan
keduanya) dengan sabdanya, ‘Sesungguhnya syetan mengalir dalam tubuh manusia
melalui aliran darah. Saya khawatir kalau (syetan itu) telah membisikkan yang
negatif kepadamu, atau berkata sesuatu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadist di atas,
Rasulullah menjelaskan duduk perkaranya, bahwa wanita itu adalah istrinya
sendiri. Karena beliau melihat langkah kedua sahabat itu dipercepat ketika
melihat Rasulullah bersama seorang wanita. Rasulullah khawatir kalau keduanya
telah diberi was-was oleh syetan (bisikan negatif), lalu berburuk sangka kepada
Rasulullah Saw.
Syetan sangat pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Banyak orang yang dalam kesulitan yang tengah melilitnya dan kesempitan yang
menghimpitnya tergoda oleh bisikannya. Syetan mengobral janji, memberi
harapan-harapan yang menggiurkan, menabur kenikmatan semu yang melenakan.
Akhirnya manusia terjebak dan mengikuti bujukannya. Padahal kenikmatan semu itu
berada dalam kubangan maksiat. “Syetan
itu memberikan janji-janji kepada mereka dengan membangkitkan angan-angan
kosong pada mereka, padahal syetan itu tidak menjanjikan kepada mereka kecuali
tipuan belaka”. (QS. an-Nisa’ : 120)
Allah Swt. telah
menceritakan, bagaimana kelicikan syetan dalam
memperdaya Nabi Adam dan istrinya: “Maka
syetan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan apa yang
tertutup dari mereka, yaitu auratnya. Dan syetan berkata: “Tuhan kamu tidak
melarangmu untuk mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak
menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” (QS.
al-A’raf: 20)
Allah Swt. berfirman: “Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah
mengirim syetan-syetan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka
berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?” (QS. Maryam : 83)
Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah
membeberkan kronologi syetan saat melakukan was-was dan menghasung para hamba
Allah Swt. untuk berbuat kemaksiatan dan dosa. “Was-was adalah pemicu keinginan.
Di saat hati seseorang hampa dan belum terbersit keinginan untuk berbuat
sesuatu, maka syetan melakukan was-was. Lalu terlintaslah dalam benaknya untuk
berbuat kemaksiatan dan dosa. Syetan mengiming-iminginya dengan kenikmatan dan
menghiasinya dengan syahwat, sehingga terbayang olehnya kelezatan dan kepuasan
nafsu, dan ia pun terlena dan lupa akan dampak buruk dari perbuatan yang akan
dilakukan. Segala akibat negatif dan menyakitkan tertutup oleh gelora nafsu.
Tidak ada gambaran baginya
kecuali kelezatan buah maksiat. Sehingga
keinginan yang terlintas dalam hatinya itu menguat dan mengkristal. Syetan
pun semakin sibuk untuk memprovokasinya agar niat itu segera diwujudkan. Jika niatnya itu reda, syetan dan
tentaranya sibuk untuk mengobarkannya. Sampai ia betul-betul mewujudkan niatnya
dan melakukan dosa dan kesalahan.” (Tafsir al Qayyim : 609)
2. Menyeret
penderitanya pada jurang kekufuran.
Aqidah adalah unsur yang
sangat prinsip dalam kehidupan seorang muslim. Para sahabat-sahabat Rasulullah
Saw. rela mempertaruhkan jiwa dan raga mereka untuk mempertahankan aqidah yang
benar.
Karena aqidah merupakan
unsur vital, maka syetan pun menjadikannya sebagai sasaran utama untuk
menjerumuskan anak-cucu Adam. Iblis berkata, “Karena Engkau telah menghukumku sesat, aku benar-benar akan
(menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (QS. al-A’raf:
16)
Apabila was-was yang
diderita seseorang itu adalah was-was dalam keimanan atau akidah, maka was-was tersebut
akan menjadikannya keluar dari iman dan akidah yang benar. Karena itu Rasulullah
Saw. memberikan solusi sedini mungkin untuk menghentikannya agar bisikan jahat
dan pikiran yang merusak itu tidak punya ruang gerak untuk menggelincirkan iman
pemiliknya.
Dalam hadits Rasulullah Saw.
menegaskan, “Syetan akan selalu
mendatangi salah seorang dari kalian seraya bertanya, ‘Siapa yang menciptakan
ini?’, Siapa yang menciptakan ini?’ Sampai pada pertanyaan, ‘Siapa yang
menciptakan Allah?’. Barang siapa yang mendapati dalam dirinya pertanyaan
tersebut, maka berlindunglah kepada Allah Swt. (baca Isti’adzah) dan hendaklah
menghentikannya (mengakhirinya)’” (HR. Bukhari)
Dalam Riwayat lain Rasulullah
Saw. bersabda, “Salah seorang dari kalian
bisa saja didatangi syetan seraya bertanya kepadanya, ‘Siapa yang menciptakan
kamu?’ Maka dia menjawab, ‘Allah’. lalu syetan bertanya lagi, ‘Siapa yang
menciptakan Allah?’ Apabila salah seorang di antara kalian mendapati hal itu
pada dirinya, hendaknya ia berkata, ‘Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’.
Ucapan itu akan menghilangkan (was-was) tersebut” (HR. Ahmad)
Dan dalam riwayat yang
lainnya lagi beliau bersabda: “Manusia
akan senantiasa bertanya-tanya. Sampai materi pertanyaannya adalah, “Kalau
Allah yang menciptakan semua makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?
Barangsiapa yang menemukan hal itu pada dirinya, maka katakanlah: “Saya telah
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’.” (HR. Muslim dan Abu Daud)
Imam al-Khaththabi berkata, “Hadits
tersebut menjelaskan bahwa apabila syetan melakukan was-was (pada seseorang)
dengan pertanyaan seperti itu, hendaknya ia segera berlindung kepada Allah
darinya, lalu menghentikannya, tidak usah diperpanjang. Karena itulah cara
menghentikan was-was (syetan). Hal ini berbeda apabila yang melakukan was-was
adalah syetan manusia. Karena kita bisa mematahkan was-wasnya dengan dalil dan
argumen yang kuat. Apabila argumennya kalah, ia akan berhenti. Tapi was-was
syetan itu tiada akhirnya. Bahkan bila kita beri argumen, ia malah memberi
was-was lain sampai kita dibuatnya bingung. Semoga Allah melindungi kita dari
was-was jenis ini.” (Fathul Bari: 6/341).
3.
Meninggalkan sunnah Rasul dan mengikuti was-was syetan
Rasulullah Saw. pernah
bersabda. “Akan ada di antara umatku nanti kaum yang berlebih-lebihan dalam
bersuci dan berdo’a.” (HR. Abu Daud)
Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah
berkata, “Termasuk tipudaya syetan yang banyak mengganggu mereka adalah was-was
dalam bersuci (mandi dan berwudhu) dan niat atau saat takbiratul ihram dalam
shalat. Was-was itu membuat mereka tersiksa dan tidak nyaman. Dan juga bisa
mengeluarkan mereka dari garis yang telah disunnahkan Rasulullah. Bahkan
diantara mereka ada yang berfikir bahwa apa yang telah dicontohkan Rasulullah
itu tidak cukup, mereka butuh sesuatu atau amalan tambahan untuk memantapkan
niatnya. Akhirnya mereka terjerumus dalam persepsi yang salah, kepayahan dalam
pelaksanaan ibadah serta pahala yang berkurang atau malah rusak.” (Ighatsatul
Lahfan: I/197)
Dalam hal wudhu:
Was-was dalam berwudhu bisa
meliputi keraguan dalam niat, mengulang-ulang dalam membasuh anggota wudhu atau
boros dalam menggunakan air.
Dalam haditsya, Rasulullah
Saw. mengingatkan kita agar waspada dengan syetan air yang bernama Walhan.
Karena syetan ini akan selalu menebar was-was untuk orang yang sedang berwudhu.
Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya
dalam wudhu itu ada syetan, yang dinamakan Walhan. Maka hati-hatilah terhadap was-was
air.” (HR. Ibnu Majah)
Penulis Syarah Sunan Ibnu
Majah mengatakan, “Secara bahasa Walhan
itu artinya yang hilang akalnya atau tamak untuk menguasai sesuatu. Syetan
wudhu disebut Walhan, bisa jadi
karena getolnya dia dalam menebar was-was pada orang yang berwudhu. Atau karena
perbuatannya itu membuat orang yang wudhu jadi bingung dan linglung seperti
orang yang hilang akalnya. Ia tidak tahu bagaimana syetan bisa mengerjai dia,
sampai ia tidak tahu apakah air yang dituang sudah membasahi anggota wudhunya
atau belum, atau sudah berapa kali ia telah membasuh anggota wudhunya.” (Syarh
Sunan Ibnu Majah: I/34)
Abdullah bin Ahmad bin
Hanbal bercerita, “Saya pernah berkata pada ayahku, bahwa saya termasuk orang
yang banyak menggunakan air wudhu. Lalu dia pun melarangku untuk melakukan hal
itu. Dia berkata, “Sesungguhnya dalam wudhu itu ada syetannya yang dinamakan
Walhan.” Ayahku sering mengingatkanku tentang masalah
ini dan melarangku agar tidak boros dalam menggunakan air. Pernah dia
menegurku, “Wahai anakku, iritlah dalam menggunakan air.” (Ighatsatul Lahfan:
I/42)
Orang yang terjangkiti
was-was dalam wudhunya akan merasa bahwa membasuh anggota wudhu dengan air tiga
kali adalah tidak cukup. Akhirnya ia membasuhnya berkali-kali melebihi yang
disunnahkan Rasulullah, yaitu tiga kali.
Akhirnya terpola dalam pikirannya bahwa cara wudhu seperti itulah yang
lebih utama. Padahal itu adalah bentuk pemborosan dalam mengunakan air.
Perhatikanlah bagaimana para
sahabat Rasulullah Saw. menjauhi penggunaan air yang boros. Abdullah bin Umar
berkata, “Kami dan sekelompok laki dan perempuan pernah berwudhu (bergantian)
dan membasuh tangan-tangan kami dalam satu wadah air pada zaman Rasulullah.”
(HR. Ibnu Khuzaimah). Dan dalam riwayat lain, Amr bin Syueib bercerita dari
kakeknya bahwa, “Ada seorang Arab badui datang ke Rasulullah, ia bertanya
tentang wudhu. Lalu beliau memberinya contoh tiga kali tiga kali. Kemudian beliau
bersabda, “Beginilah cara berwudhu,
barangsiapa yang melakukan lebih dari itu, berarti ia telah menyalahi (sunnahku),
zhalim dan melampaui batas.” (HR. Ibnu Majah)
Abdullah bin Umar berkata, “Saat Rasulullah melewati Sa’ad yang lagi
berwudhu, Rasulullah menegurnya, ‘Wahai Sa’ad, kenapa kamu terlalu boros
menggunakan air?’ Ia menjawab. ‘Apakah dalam berwudhu juga ada mubadzir
(boros)?’ Rasulullah bersabda, “Ya, walaupun kamu berada dalam sungai yang
mengalir.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Seorang ulama fiqih,
Muhammad bin ‘Aljan berkata, “Orang yang mumpuni (faqih) dalam agama Allah,
akan menyempurnakan wudhu dengan sedikit menggunakan atau menuangkan air.”
Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Termasuk tanda kurang mumpuninya
seseorang dalam agama, borosnya dia dalam menggunakan air.” (Ighatsatul Lahfan:
I/141)
Abu Abdillah bin Muflih al-Maqdisi berpesan, “Seyogyanya orang-orang yang
berwudhu itu menyederhanakan dua hal. Pertama,
niat. Karena aku pernah melihat sebagian orang yang ditimpa was-was, dia
bersiap-siap untuk mengambil air wudhu mulai dari awal subuh sampai matahari
hampir terbit, karena lamanya ia dalam meyakinkan niat.
Kedua, membasuh anggota wudhu.
Ada orang yang berkumur, istinsyaq
(memasukkan air ke hidung), membasuh anggota wudhu dengan mengulang-ulang
sampai dua puluh kali. Karena dia merasa bahwa apa yang dilakukannya belum sah
dan tidak mengikuti sunnah. Padahal dia telah menyalahi sunnah.” (Mushibah
Akibat Tipuan Syetan: 227)
Dalam hal mandi:
Mandi adalah salah satu cara
untuk membersihkan badan dari kotoran dan menghilangkan bau badan. Terlebih
dalam hal mandi besar, maka tidak hanya kotoran fisik yang dihilangkan, tapi
juga menghilangkan hadats besar, seperti mandi
junub atau mandi setelah keluarnya darah nifas dan haidh. Karena mandi seperti
itu merupakan bagian dari ibadah, syetan juga tidak akan membiarkan momen itu
lewat begitu saja.
Was-was dalam mandi bisa terjadi
dalam niatnya atau mengalirnya air ke seluruh tubuhnya atau banyaknya debit air
yang ia pakai mandi, sehingga ia ragu apakah air itu suci dan bisa mensucikan?
Abul Faraj Ibnul jauzi
bercerita, “Ibnu ‘Aqil pernah cerita kepadaku, bahwa ada seorang laki-laki
datang kepadanya dan berkata, ‘Apa pendapatmu, jika aku mandi besar dengan
menceburkan diriku ke air berkali-kali, tapi aku masih ragu, apakah mandiku
sudah sah atau belum?’ Ibnu ‘Aqil berkata, ‘Pergilah kamu! Kamu tidak
berkewajiban untuk shalat.’ Dia bertanya keheranan, ’Bagaimana bisa begitu?’
Ibnu ‘Aqil menjawab, ’Karena Rasulullah telah bersabda, “Kewajiban tidak diwajibkan bagi tiga orang. Orang gila
sampai ia sembuh, orang tertidur sampai ia bangun, anak bayi sampai ia baligh.”
Orang yang telah menenggelamkan badanmya ke air berkali-kali, lalu ia ragu
apakah mandinya sudah sah apa belum adalah orang gila.” (Ighatsatul Lahfan:
I/134)
Dalam hal shalat:
Salah seorang sahabat
Rasulullah Saw. yang bernama Utsman bin Abil ‘Ash, menceritakan fenomena
was-was syetan yang ada dalam dirinya melaui hadits berikut. Utsman bin Abil
‘Ash bercerita: “Ketika Rasulullah Saw.
menugaskanku ke Thaif, aku mengalami suatu gangguan dalam shalatku, sehingga
aku tidak tahu shalat apa yang sedang aku laksanakan. Ketika aku menyadari
gangguan itu aku segera pergi menemui Rasulullah Saw. (di Madinah). Beliau bersabda:
‘Ibnu abil ‘ash?’ Aku menyahut: ‘Ya, Wahai Rasulullah!’. Beliau bertanya, ‘Apa
yang membuatmu datang kemari?’. Aku menjawab: ‘Wahai Rasululah aku mengalami
suatu gangguan dalam shalatku, sehingga
aku tidak tahu shalat apa yang aku laksanakan’. Rasulullah bersabda, ‘Itulah
syetan, mendekatlah kemari’.
Maka aku pun mendekat kepadanya, dan aku duduk di atas
kedua telapak kakiku. Rasulullah memukul dadaku dengan tangannya, dan meludahi
mulutku seraya berkata, ‘Keluarlah musuh Allah!’. Beliau melakukan hal tersebut
tiga kali, kemudian mengatakan, ‘Sekarang lanjutkanlah tugasmu!’ Utsman
berkata, “Demi Allah, setelah itu saya tidak pernah mengalami gangguan lagi”. (HR. Ibnu Majah, dan Imam al-Haitsami dalam Kitab
az-Zawaid menyatakan sanad haditsnya shahih dan perawinya terpercaya)
Dalam riwayat lain
disebutkan, bahwa ia telah datang ke Rasulullah Saw. seraya mengadu kepadanya,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya syetan telah hadir dalam shalatku dan membuat
bacaanku ngaco dan rancu.’ Rasulullah menjawab. “Itulah syetan yang disebut
dengan Khinzib. Apabila kamu merasakan kehadirannya, maka meludahlah ke kiri
tiga kali dan berlindunglah kepada Allah.’ Aku pun melakukan hal itu, dan Allah
menghilangkan gangguan itu dariku.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain, “Sesungguhnya syetan apabila mendengar suara
adzan sholat, ia menyingkir seraya terkentut-kentut, sampai pada tempat yang
tidak terdengar. Apabila (adzan) telah selesai, ia kembali dan melakukan
was-was. Dan apabila ia mendengar lantunan Iqomah, ia kabur lagi sampai pada
tempat yang tidak terdengar. Apabila (Iqomah) telah selesai, maka ia kembali
lagi dan melakukan was-was” (HR. Muslim)
Dan dalam riwayat yang lain,
Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya
Rasulullah telah bersabda, “Jika salah seorang dari kalian shalat, syetan akan
datang kepadanya untuk menggodanya sampai ia tidak tahu berapa rakaat ia telah
shalat. Apabila salah seorang dari kalian mengalami hal seperti itu, hendaklah
ia sujud dua kali (sujud sahwi) saat ia masih duduk dan sebelum salam, setelah
itu baru megucapkan salam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hal membaca Al-Qur’an:
Was-was dalam membaca Al
Qur’an biasanya terjadi dalam melafazhkan huruf-hurufnya. Memang kita tidak
boleh sembarangan dalam membaca Al Qur’an, ada kaidah baca yang harus kita ikuti. Allah Swt. berfirman: “Dan bacalah Al Qur’an dengan perlahan-lahan
(tartil).” (QS. al-Muzzammil: 4). Ali bin Abi Thalib menafsirkan kalimat “Tartil” dengan mentajwidkan huruf dan
mengetahui di mana harus berhenti. (Kitab Abjadul ‘Ulum: 2/571). Sedangkan Imam
Qurthubi mengatakan, “Yang dimaksud dengan tartil
adalah membacanya dengan pelan dan jelas disertai memahami maknanya.” (Tafsir
al-Qurthubi: 19/37).
Abul Faraj Ibnul Jauzi
berkata, “Terkadang Iblis melakukan was-was dalam shalat seseorang dalam membaca
ayat-ayat Al Quran. Sampai ada yang membaca alhamdu
pada surat al-Fatihah dengan diulang-ulang. Dan ada juga yang berusaha keras
dan sekuat tenaga sampai keluar air ludahnya dalam mengucapkan huruf ‘Dhad’ dalam membaca ‘Ghoiril Maghdhubi’. Iblis telah mengalihkan
perhatian mereka dari memahami makna, dialihkan ke pengucapan huruf yang berlebihan
dan melampaui kaidah baca.” (Ighatsatul Lahfan: I/60).
4.
Mengganggu dan menyakiti hati orang lain
Kita bayangkan, bila berada dalam antrian panjang untuk berwudhu. Orang yang
terjangkiti was-was durasi wudhunya lama, karena ia harus mengulang-ulang basuhan anggota badannya saat berwudhu.
Air pun yang seharusnya cukup buat beberapa orang, hanya cukup untuknya. Dan ketika tiba giliran yang lain, air itu
ternyata stoknya habis.
Atau ketika sedang shalat
dalam suatu jama’ah. Ketika sedang shalat orang yang terjangkiti was-was
malafazhkan niat dengan diulang berkali-kali, atau saat takbir pun diulang
beberapa kali karena merasa belum pas. Pasti ia akan menjadi tatapan mata
jama’ah lainnya. Akibatnya konsentrasi jama’ah lain pun
akan buyar, kekhusyu’an mereka akan
terganggu, begitu juga dengan bacaan shalatnya.
Ibnul Qoyyim pernah
bercerita dalam kitabnya, bahwa ada orang yang terjangkiti was-was sedang
sholat berjama’ah. Saat iman sudah takbir, orang tersebut melafazhkan niatnya.
Dan ia adalah orang yang terjangkiti was-was dalam pengucapan kalimat.
Sepertinya tidak cukup baginya untuk melafazhkan “Ushalli” dengan satu kali. Ia selalu mengulang-ulangnya.
Dan ketika ia mengucapkan
lafazh “Ada-an lillahi ta’ala”
(Melaksanakan karena Alalh ta’ala), dia salah mengucapkan dengan kata, “Adza-an lillahi ta’ala” (Untuk
menyakiti Allah ta’ala). Lalu makmum yang disampingnya merasa terganggu dan
membatalkan shalatnya seraya berucap di dekat telinganya, “Wali rasulihi wa malaikatihi wa jama’atil mushallin” (Juga
menyakiti Rasul-Nya, malaikat-Nya dan jama’ah lain yang sedang shalat). (Kitab
Ighatsatul Lahfan: I/135).
Contoh-contoh
di atas pasti akan membuat orang lain terganggu dan penderitanya merasa tertekan dalam hidupnya. Selain juga akan
mengacaukan aktifitas penderitanya.
Mengobati Penyakit Was-Was
Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata, “Was-was itu penyebabnya ada dua.
Pertama, bodoh terhadap syari’at. Kedua, adanya kekacauan dalam akal atau
pikiran. Dan keduanya merupakan kekurangan dan aib yang paling besar dalam diri
seseorang.” (Ighatsatul Lahfan: I/139).
Oleh karena itu, apapun bentuk dan macam dari was-was yang menimpa kita, kita
bisa mengikis atau menganggulanginya dengan menghilangkan dua kekurangan yang
menjadi penyebab seseorang terjerumus dalam was-was. Yaitu dengan ilmu dan ittiba’ (mengikuti) teladan kita, Nabi
Muhammad Saw.
Dengan Ilmu yang mengantarkan kita mengenal ajaran Allah Swt. dan
mengetahui sunnah Rasul-Nya, akan mengantarkan kita untuk memahami apa saja
yang telah dilakukan oleh Rasulullah semasa hidupnya, lalu kita mengikutinya
sebagai imam dan teladan yang harus diikuti.
Allah Swt. berfirman, “Katakanlah,
jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi
dan mengampuni dosa-dosamu. Alah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.
Ali Imran: 31)
Berikut adalah beberapa hal hal yang dapat dilakukan untuk mengobati
penyakit was-was, yaitu:
1. Membekali diri dengan akidah yang benar dan lurus. Dengan
begitu ia bisa menolak was-was syetan dengan segala jenis tipu dayanya yang
licik.
2.
Berpegang teguh kepada syari’at Allah Swt., berlindung
kepada-Nya dengan dzikir dan do’a.
3.
Menjaga rutinitas bacaan Al Qur’an dan mempelajari
sunnah-sunnah nabi-Nya.
4.
Mengedepankan yang yakin dari pada yang meragukan dan
menghentikan pikiran yang menyeret pada keraguan.
5. Apabila was-was muncul maka segeralah tepis dan jangan
diikuti. Apabila berkaitan dengan akidah, mantapkan hati dengan ucapan, “Saya
telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”.
6. Melakukan Ruqyah Syar’iyyah sebagaimana yang diajarkan
Rasulullah Saw. Wallahu A’lam [].
Sumber: Majalah GHOIB, Edisi 58, Th. IV